WEB PSIKOLOGI & PENDIDIKAN


MENGUPAS TUNTAS KEILMUAN PSIKOLOGI DAN KEPENDIDIKAN
Contiguous Conditioning (Er. guthrie)

Pandangan Guthrie lebih menekan pada teori yang bersifat applied (bisa di aplikasikan), sehingga dapat dikatakan bahwa teorinya lebih bersifat empiris. Menurut beliau teori yang dikemukan oleh throndike, Pavlov, dan Watson terlalu subyektif, sedangkan menurut prinsip parsimoni, semua hal yang berkaitan dengan belajar dapat diterapkan menggunakan satu prinsip. Prinsip yang sesuai hal ini adalah prinsip yang dikemukakan oleh Aristoteles dengan hukum Asosiasinya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teori-teori Guthrie lebih bersifat asosiatif.

Satu Hukum Belajar

Satu prinsip belajar yang dapat diterapkan untuk berbagai situasi adalah hukum "contiguity" (law of contiguity), yang menurut Guthrie "Merupakan kombinasi dari stimulus yang kemudian diikuti movement (respon)"

Sehingga dapat dikatakan bahwa teori ini memiliki kesamaan dengan teori asosiasi Aristoteles. Dimana suatu belajar akan timbul bila individu dapat mengasosiasikan adanya unsur kedekatan antara stimulus-respon, sehingga dikatakan Guthrie bila seseorang melakukan sesuatu di suatu waktu, maka pada saat lain ia akan cenderung merespon secara sama, namun pada tahun 1959 beliau merevisi hukum contiguity sebagai berikut :

" Sesuatu merupakan tanda/isyarat dari apa yang akan dilakukan individu"

Menurut Guthrie bila timbul stimulus namun individu tidak mereaksi apa-apa, berarti belum terjadi unsur keterdekatan (asosiasi) antara stimulus tersebut dengan respon tertentu, sedangkan bila stimulus tersebut bereaksi berarti telah terjadi asosiasi.

Dari apa yang dikemukakan di atas mencerminkan konsep "Prepotency of Element" dimana elemen-elemen (stimulus) yang terdapat pada lingkungan memiliki potensi tertentu, yaitu potensi untuk menimbulkan respon dan potensi untuk tidak menimbulkan respon. Dengan demikian ada stimulus yang mendapat respon ada stimulus yang tidak mendapat respon, karena potensi berbeda. Sehingga dalam merespon/mereaksi individu terlebih dahulu melakukan seleksi.

Menurut Guthrie respon yang diberikan oleh individu merupakan kecenderungan untuk bertindak (probabilistic) karena ;

Individu selalu dihadapkan pada berbagai kondisi adanya konflik antara berbagai tendensi. Adanya stimulus tidak selalu memberikan respon, karena stimulus itu akan berinteraksi dengan stimulus lain sehingga membentuk totalitas. Totalitas inilah yang sesungguhnya memberikan pengaruh terhadap individu, sehingga dalam memprediksi perilaku individu harus mempertimbangkan totalitas dari stimulus, bukan hanya satu atau dua stimulus yang berdiri sendiri.

One-Trial Learning

Hukum Aristoteles yang lain adalah hukum "frequency" (law of frequency), yang menyebutkan bahwa kekuatan asosiasi antara stimulus dan respon tergantung pada frequensi kemunculannya, namun banyak sedikitnya S-R dipasangkan tidak memberikan pengaruh terhadap timbulnya asosiasi, karena frequency bukan merupakan prinsip belajar. Asosiasi antara S dan R dapat terjadi/timbul meskipun hanya dalam satu kali perlakuan. Dengan demikian asosiasi akan timbul antara S dan R, meskipun trial/perlakuan itu hanya terjadi satu kali.

Prinsip Recency

Prinsip Recency berkaitan dengan konsep contiguity dan konsep one-trial learning. Dimana prinsip ini mengatakan bahwa apa yang kita lakukan dimasa lalu akan muncul kembali bila kita dihadapkan pada situasi yang sama.

Movement Produced Stimuli

Meskipun teori Guthrie lebih menekan pada prinsip keterdekatan (contiguity). Contiguity ini bukan hanya berkaitan antara stimulus lingkungan dan respon yang timbul saja, tetapi ia memperhatikan faktor lain, sebab seringkali antara timbulnya respon dan kehadiran stimulus memiliki interval waktu tertentu. Adanya waktu interval ini menyulitkan kita untuk melihat adanya contiguity mengenai dua hal. Untuk mengatasi hal ini Guthrie menerapkan prinsip yang disebut "movement-produced" (mps). Dimana seperti namanya, aspek ini mengakibatkan timbulnya gerakan tertentu terhadap anggota tubuh.

Adanya stimulus tertentu akan mempengaruhi aktivitas dalam tubuh individu yang berkaitan dengan otot, syarat dimana organ tubuh ini ahkirnya akan menghasilkan gerakan (respon tertentu). Adakalanya contiguity terjadi antara stimulus dan respon, namun di saat lain contiguity terjadi antara stimulus respon, namun disaat lain contiguity terjadi antara stimulus "movement produced stimuli dan respon"

Bersambung ......


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • Silabus dan RPP Bimbingan Konseling berkarakter
    27-01-2012 18:06:47  (1088)
  • Buku Pribadi Siswa untuk BK
    21-02-2012 23:13:55  (356)
  • Seminar Internasional IBKS Gratis di Surabaya 2 dan 3 Mei 2015
    26-04-2015 18:21:18  (310)
  • Pembuatan Alat Peraga Bimbingan Konseling
    14-03-2012 09:09:01  (276)
  • Tes Karakter Orang
    18-02-2012 04:20:47  (267)

Pengunjung

    3362609

PENCARIAN ARTIKEL


SILAKAN KETIK KATA KUNCI DIBAWAH INI

SELAMAT DATANG

Website ini dipersiapkan sebagai wadah saling berbagi keilmuan dan media pembelajaran dari berbagai sudut pandang Psikologi, Manajemen Sekolah, Perkembangan Dunia Pendidikan, Agama, Sosial, Budaya, dan Politik di Indonesia. Untuk Pengembangan website lebih lanjut sangat diharapkan masukan, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pengunjung tercinta. Semoga artikel yang ada di dalam website dapat bermanfaat untuk kita semua, amin.

Motto Hidup

Torehkan Prasasti Hidup Dalam Wujud Keilmuan

Blog Guru Indonesia

Bookmark and Share

HUBUNGI PENULIS

Bagi pengunjung yang mencari informasi lebih jauh terkait artikel di website ini silakan hubungi kami di 081913042100 atau email ndorodemang@kemenag.go.id Trima Kasih.

Hadir di Facebook

Link Partner