WEB KAJIAN PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN


MENGUPAS TUNTAS KEILMUAN PSIKOLOGI
Peran Dan Fungsi Konselor, Guru, Dan Kepala Sekolah Dalam Pengelolaan Bimbingan Dan Konseling di Sekolah Dasar

Pada hakikatnya, pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah menjadi tanggung jawab bersama antara konselor dan personil sekolah, yaitu kepala sekolah, guru, wali kelas dan petugas lainnya. Ideal sekali bila di suatu sekolah terdapat konselor yang diperlengkapi oleh staf lainnya seperti dokter, psikolog dan pekerja sosial.

Dalam hubungannya dengan program bimbingan konseling di sekolah, setiap petugas mempunyai tugas-tugas sendiri. Walupun memiliki tugas yang berbeda namun semua petugas akan bekerja sama dan bersinergi dalam pelaksanaan Bimbingan dan konseling di sekolah. Di bawah ini akan di bahas peran dan fungsi kepala sekolah, konselor, wali kelas dan guru terkait dengan bimbingan dan konseling.

1.  Peran dan Fungsi Kepala Sekolah

Gibson & Mitchell (1995) menyebutkan tiga peran kepala/pimpinan sekolah di sekolah-sekolah Amerika, yakni: sebagai pemimpin dan penyokong program, sebagai konsultan dan pemberi nasehat, dan sebagai penyedia sumber-sumber bantuan. Berikut adalah deskripsi singkat dari peran tersebut.

  1. Sebagai pemimpin dan penyokong. Pimpinan sekolah menjadi penentu utama bagi keberhasilan program-program bimbingan. Karena pimpinan sekolah mewakili pemimpin pendidikan baik di sekolah maupun di masyarakat, mreka memiliki tanggung jawab untuk memberikan dukungan yang jelas, terbuka, dan legal terhadap program-program sekolah termasuk di dalamnya program bimbingan. Termasuk dalam hal ini adalah tanggung jawab untuk mengkomuniksikan program, keberhasilan, dan kebutuhan-kebutuhan sekolah kepada masyarakat luas pembayar pajak (di Amerika pendidikan di biayai melalui pajak yang dibayar oleh masyarakat, sehingga sekolah perlu mempertanggung jawabkan program-programnya pada msyarakat).
  2. Sebagai konsultan atau pemberi nasehat. Pimpinan sekolah memiliki gambaran yang detil tentang semua perencanaan da kegiatan di institusinya. Posisi ini memungkinkan kepla sekolah untuk konstribuis yang berharga pada program-program bimbingan dan konseling sekolah dengan cara berti ndak sebagai penasehat dan konsultan berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan sekolah yang dapat da perlu dilayani melalui program bimbingan dan konseling., kebijakan-kebijakan sekolah yang mempengaruhi fungsi dan program bimbingan dan konseling, pemecahan masalah-masalah yang dalam implementasi program-program bimbingan, da n prosedur-prosedur atau oerientasi bagi kemajuan da pengembangan program. Untuk itu, kepala sekolah seharusnya memiliki pengetahuan yang mencukupi tentang bimbingan dan konseling. Masalah akan timbul jika kepala sekolah tidak paham tentang konsep-konsep bimbingan dan konseling. 
  3. Sebagai penyedia sumber. Pimpinan sekolah seharusnya memiliki tanggung jawab yang besar tentang anggaran sekolah, baik sumber maupun penggunaanya. Daam peran ini, kepala sekolah memberikan saran dan arahan tentang semua program sekolah berkenan dengan permintaan anggaran, personalia, fasilitas, dan perlengkapan. Kepala sekolah juga perlu memiliki pengetahuan tentang kemungkinan sumber-sumber eksternal yang dapat diterima oleh sekolah.

            Menurut  Depdikbud dalam kurikulum 1975 tugas kepala sekolah terkait dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah:

  1. Membuat rencana / program sekolah secara menyeluruh
  2. Mendelegasikan tanggung jawab tertentu dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling
  3. Mengawasi pelaksanaan program
  4. Melengkapi dan menyediakan kebutuhan fasilitas bimbingan dan konseling
  5. Mengadakan hubungan dengan berbagai lembaga di luar sekolah dalam rangka kerjasama pelaksanaan bimbingan konseling
  6. Mengkoordinasikan kegiatan bimbingan dengan kegiatan-kegiatan lainnya.

2. Peran dan Fungsi Konselor

Asosiasi Konselor Sekolah di Amerika pada tahun 1974 mengeluarkan suatu aturan yang tidak membatasi peran konselor sekolah dasar. Namun aturan tersebut juga menekankan fungsi utama konselor di sekolah dasar yang meliputi membrikan layanan konseling individual dan  konseling kelompok pada siswa; memberikan layanan konsultsi pada guru, staf sekolah yang lain, dan orang tua; dan menilai keefektifan konselor dan  program-program bimbingan. Pada tahun 1977 dikeluarkan aturan baru yang menyatakan bahwa fungsi utama konselor di sekolah dasar adalah memberikan layanan konseling, konsultasi, dan koordinasi (Shertzer & Stone, 1981).

Terdapat perdebatan yang seru berkenan dengan apakah konseling dan konsultasi merupakan fungsi penting bagi kerja konselor di sekolah dasar. Meskipun demikian, selama tahun 1970-an konsultasi menjadi fungsi penting di sekolah dasar. Ini disebabkan karena konsultasi dapat merambah semua siswa dan membantu guru dan staf sekolah lain untuk mengembangkan suatu iklim pembelajaran dan hubungan guru-siswa yang efektif. Dalam memberikan layanan konsultasi, konselor tidak mengritik guru tetapi berkolaborasi dengan guru.

Suatu survei yang dilakukan pada tahun 1989 oleh Asosiasi Konseling Amerika ditemukan sejumlah kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar dengan ranking dan persentase seperti digambarkan pada tabel 1 di bawah.

 

Tabel 1. Ranking kegiatan layanan konselor di sekolah dasar yang dihimpun

dari 996 sampel konselor sekolah dasar

Ranking

Kegiatan Layanan

Persentase

1

Konseling individual

98

2

Bimbingan dan konseling kelompok

81

3

Konsultasi dengan orang tua

79

4

Konsultasi dengan guru

78

5

Bimbingan di kelas

65

6.5

Asesemen individual

39

6.5

Koordinasi, alih tangn, dan konsultasi dengan agen-agen masyarakat

39

Sumber: Gibson & Mitchell, 1995: 53.

 

Karakteristik siswa sekolah dasar dan sekolahnya (sekolah dasar) telah membawa impliksi langsung bagi pemikiran tentang elemen-elemen tertentu dalam organisasi program yang membedakannya dengan program bimbingan di jenjang pendidikan lainnya. Perbedaan itu mengarah pada peran dan fungsi konselor dan bukan pada apa yang dilakukan oleh konselor sekolah dasar tetapi berkenaan dengan bagaimana mereka melakukannya. Sebagai contoh, konselor dan staf sekolah lainnya (spesialis) harus bekerja sama dengan para guru kelas, demikian pula berbagai aktivitas bimbingan juga harus berorientasi pada kelas (lihat tabel 1). Konteks ini tampaknya mengarahkan pada fungsi konsultasi dan koordinasi. Meskipun demikian, ada tugas tambahan bagi para konselor di sekolah dasar di samping memberikan konseling, konsultasi dan koordinasi, yakni melaksanakan asesmen, orientasi siswa, dan memberikan layanan untuk memenuhi kebutuhan perkembangan karir setiap peserta didik.

Gibson & Mitchell (1995) mengemukakan beberapa peran utama konselor di sekolah dasar, yakni sebagai konselor, konsultan, sebagai koordinator, sebagai agen perubahan, sebagai asesor, sebagai pengembang karir, dan agen pencegahan. Berikut adalah deskrisi singkat dari masing-masing peran tersebut.

  1. Memberikan layanan konseling. Peran utama konselior sekolah, sebagaimana halnya konselor di jenjang pendidikan di atasnya, adalah memberikan konseling (mengkonseling), individual maupun kelompok. Meskipun kebutuhan dan praktek konseling di sekolah dasar mungkin tidak sebanyak di jenjanmg pendidikan lainnya (SLTP dan SMA) bahkan cenderung jarang dilakukan, bagaimanapun konselor tetap harus selalu mempersiapkan dirinya sebaik-baiknya jika sewaktu-waktu menemukan siswa atau menerima siswa yg dirujuk oleh guru, orang tua, atau yang diidentifikasi oleh konselor sendiri atyau oleh profresional lain yang mungkin membutuhkan konseling. Di USA para konselor sekolah dasar juga diminta untuk berpartisipasi aktif dalam pemecahan maalah-masalah kesehatan mental, seperti anak-anak yang menjadsi korban kekerasan, anak-anak yang terlibat dalam penyalahgunaan narkoba, dan anak-anak yang mengalami gangguan depresi dan memperlihatkan kecenderungan untuk bunuh diri. Ini memperlihatkan bahwa kebutuhan perkembangan dari para siswa tampaknya dipandang nomor dua oleh kepala sekolah dan oleh orang tua. Prioritas baru ini membawa implikasi langsung pada pengembangan program pendidikan prajabatan dan dalam jabatan konselor dengan memasukkan kurikulum yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial.
  2. Konsultan. Peran penting lainnya di samping memberikan konseling bagi para konselor sekolah dasar adalah sebagai konsultan pendidikan. Konselor dsapat berkolaborasi dengan guru, orang tua, kepala sekolah, dan profesional lain untuk membantu pihak ketiga (siswa). Jadi, dalam peran ini konselor membantu pihak lain untuk membantu peserta didik menangani secara efektif kebutuhan-kebutuhan perkembangan dan penyesuaian.
  3. Koordinator. Di sekolah dasar, para konselor juga memiliki peran sebagai koordinator. Para konselor sekolah dasar memiliki tanggung jawab untuk mengkoordinasikan berbagai macam kegiatan bimbingan dengan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. Para konselor sekolah di Sekolah dasar juga diperlukan untuk mengkoordinasikan kontribusi dari para profesional lain yang terlibat dalam pengelolaan pendidikan seperti psikologi, pekerja sosial, dsb.
  4. Agen orientasi. Para konselor sekolah dasar juga memiliki peran sebagai agen orientasi. Sebagai fasilitator perkembangan manusia, para konselor di sekolah dasar perlu mengakui pentingnya orientasi anak didik tentang (terhadap) tujuan sekolah dasar dan lingkungan sekolahnya. Adalah penting bahwa pengalaman pendidikan awal anak merupakan (menjadi) suatu pengalaman yang positif bagi anak. Berkenaan dengan ini para konselor sekolah dasar dapart merencanakan suatu kegiatan berkonsultasi dengan para guru untuk belajar dan mempraktekkan berbagai keterampilan interpersonal dan interaksional di sekolah.
  5. Asesor. Para konselor sekolah dasar juga memiliki peran sebagai asesor, yakni melakukan asesmen kepada peserta didik berdasarkan data hasil tes maupun non tes. Data hasil pengukuran tersebut perlu untuk diinterpreastikan dalam rangka memperoleh pemahaman yang akurat tentang siswa beserta dengan potensi-potensinya , dampak budaya pada perkembangan siswa, dan pengaruh faktior-faktor lingkungan lain pada perilaku siswa.
  6. Pengembang karir. Peran lainnnya yang tak kalah pentingnya bagai para konselor disekolah dasar adalah sebagai pengembang karir. Pentingnya pendidikan di sekolah dasar sebagai landasan bagi pengambilan keputusan di kemudian hari oleh anak menegaskan (menggarisbawahi) pentingnya memberikan perhatian pada perkembangan karir anak. Konselor dapat membuat kontribusi penting sebagai koordinator dan konsultan dalam mengembangkan program pendidikan karir yang terintegrasi, berkesinambunghan, dan terus-menerus.
  7. Agen pencegahan. Di sekolah dasar merupakan tanda-tanda peringatan awal bagi masalah-masalah anak di kemudian hari: kesulitan belajar, gangguan mood umum (ketidakbahagiaan, gelisah, depresi), dan berbagai bentuk perilaku kenakalan (berkelahi, pertengkaran, mengganggu, impulsif, dan membangkang/ bandel/keras kepala). Conyne (1983) dan Dodge (1983) serta para penulis lain telah menyebutkan sejumlah besar bukti untuk menyatakan bahwa anak-anak yang tak dapat menyesuiakan diri selama mengikuti pendidikan di sekolah dasar memiliki resiko tinggi untuk mengalami berbagai macam problem perilaku di kemudian hari. Demikian pula penyalahgunaan narkoba, kekerasan di dalam kelompok teman sebaya, vandalisme, dan berbagai bentuk perilaku menyimpang lain oleh anak-anak sekolah dasar grafiknya cenderung terus meningkat.

Menurut  Depdikbud dalam kurikulum 1975 tugas konselor sekolah terkait dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah:

  1. Menyusun program bimbingan konseling bersama kepala sekolah
  2. Bertanggung jawab terhadap jalannya program
  3. Mengkoordinasikan laporan kegiatan pelaksanaan program sehari-hari
  4. Memberikan laporan kegiatan kepada kepala sekolah
  5. Menyelenggarakan pertemuan dengan staf bimbingan
  6. Melaksanakan bimbingan kelompok, konseling kelompok dan konseling individual
  7. Memberikan layanan oreantasi dan informasi bagi siswa
  8. Bekerjasama dengan wali kelas mengadakan kunjungan rumah (home visit)
  9. Menyelenggarakan pembicaraan kasus (case confrencet)
  10. Menyelenggarakan program latihan bagi para petugas BK
  11. Mengadakan wawancara dengan siswa
  12. Memberi konsultasi kepada guru dan wali kelas dalam pemecahan masalah siswa
  13. Melakukan referal( alih tangan kasus) kepada ahli yang berwenang.

3. Peran Guru  dalam Program Bimbingan Konseling 

Hubungan timbal balik antara bimbingan dan pengajaran di dalam proses pendidikan menekankan peranan guru sebagai pembimbing dan pengajar. Guru sebagai pendidik mempunyai tangung jawab menciptakan iklim pendidikan di sekolah, agar setiap siswa dapat mengembangkan dirinya. Kehidupan guru di sekolah maupun di luar sekolah sangat mempengaruhi perkembangan dan kehidupan pribadi siswa.

Jones (dalam Gunawan, 2001) menyatakan: jika guru dapat memahami siswanya sebagaimana adanya, dengan segala kemampuan dan kelemahannya, dan ingin membantu siswa untu menyempurnakan apa yang perlu, guru tersebut akan mempunyai banyak kesempatan untuk menolong siswanya memahami dan menerima dirinya serta menolong mereka untuk menetapkan tujuan hidup yang sesuai dengan diri sendiri. Guru dapat pula mempengaruhi sikap dan perasaan siswa untuk membuat suatu pilihan yang mudah maupun yang sukar secara bebas.

Sebagai pengajar, guru harus mampu memahami kehidupan anak secara individual maupun kelompok. Dengan memperhatikan perbedaan individu dan mengembangkan proses kelompok yang dinamis guna memberikan kesempatan belajar berkembang kepada setiap muris di dalam kelasnya.

Pelaksanaan program bimbingan sangat membutuhkan data pribadi anak. Data tersebut dapat diperoleh melalui alat pengumpul data, misalnya tes, wawancara, observasi dan sebagainya. Di samping alat-alat tersebut, keterangan langsung dari guru mengenai perkembangan pribadi anak didiknya jauh lebih berharga karena setiap hari guru bergaul dengan anak didiknya dan bersama-sama mengalami pengalaman social, emosional, dan akademis yang selalu berubah-ubah. Pengalaman ini sangat berharga untuk pelaksanaan program bimbingan.

Seorang guru yang baik, dapat memasukkan unsur-unsur bimbingan dalam mata pelajaran sekolah. Disamping fungsinya sebagai pembimbing siswa sebagai individu, guru dapat pula berfungsi sebagai pembimbing kelompok, misalnya mengendalikan proses interaksi kelompok sehingga ketegangan-ketegangan atau tekanan dalam kelompok dapat diredakan atau dikurangi.

Menurut  Depdikbud dalam kurikulum 1975 tugas guru mata pelajaran terkait dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah:

  1. Turut serta aktif dalam membantu melaksanakan kegiatan program BK.
  2. Memberikan informasi tentang siswa kepada staf bimbingan dan konseling.
  3. Memberikan pelayanan intruksional
  4. Berpartisipasi dalam studi kasus
  5. Memberikan informasi kepada siswa terkait dengan mata pelajaran yang diampunya, misalnya cara belajar bahasa inggris, matematika dsb.
  6. Meneliti kesulitan dan kemajuan siswa
  7. Menilai kenajuan belajar siswa
  8. Mengadakan hubungan dengan orang tua siswa.

 

5.  Peran dan Fungsi Guru Kelas/ Wali Kelas

Idealnya, bimbingan dan konseling di berbagai jenjang pendidikan sekolah teramsuk di dalamnya di sekolah dasar (sekolah dasar) dilaksanakan oleh orang yang berkompeten dan berwenang, yakni konselor. Namun karena keterbatasan-keterbatasan yang ada, misalnya belum adanya petugas khusus bimbingan atau konselor yang diangkat oleh pemerintah atau oleh pihak yayasan untuk mengelola bimbingan dan konseling di sekolah dasar, maka guru kelas dapat diserahi tugas untuk menggantikannya sesuai dengan batas kemampuan dan kewenangannya. Seperti diketahui, meskipun berbagai peraturan pemerintah dan produk inovsi kurikulum, seperti PP Nomor 28 /1990 tentang Pendidikan Dasar,  Kurikukulm 1993, dan terakhir Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang mulai dilaksanakan pada tahun 2006 telah mengatur pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah dasar, serta pengakuan bahwa pekerjaan bimbingan dan konseling merupakan suatu profesi, pemerintah belum mengangkat petugas khusus yang berkompeten untuk melaksanakan tugs-tugas bimbingan.

Dalam PP Nomor 28/190 pada Bab X pasal 25 ayat 2 ditegaskan bahwa bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. Yang dimaksud dengan guru pembimbing di sini adalah petugas khusus yang berkelayakan yang diangkat secara khusus untuk menyelenggarakan tugas-tugas bimbingan. Di Indonesia petugas tersebut dikenal dengan sebutan guru pembimbing, tetapi belakangan ini, tepatnya tahun 2006, Asosisi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN) membuat edaran untuk menggunakan predikat “konselor” guna menyebut guru pembimbing.

Tidak adanya petugas khusus bimbingan untuk mengelola tugas-tugas bimbingan dan konseling di sekolah dasar tentunya menimbulkan beberapa kesulitan atau kendala. Beberapa kondisi umum yang mungkin dapat diamati yang mengindikasikan adanya kendala dalam pelaksnaan bimbingan antra lain adalah: bimbingan tidak berjalan seperti yang diharapkan karena tidak adanya tenaga yang berkompeten untuk melaksnakanannya; tenaga yang ditunjuk untuk melakasankan tugas-tugas bimbingan memperlihatkan kinerja yang tidak profesional bahkan malpraktek, banyak siswa tidak akan memanfaatkan layanan bimbingan; dan orang tua tidak percaya pada bimbingan di sekolah. Namun beberapa kendala tersebut akan dapat diperkecil apabila guru yang diserahi tugas melaksanakan bimbingan mau melaksanakannya dengan sepenuh hati, mau terus belajar dan mengembangkan diri dengan cara mempelajari ilmu-ilmu bimbingan baik secara formal maupun nonformal.   Jelasnya, meskipun tampak sedikit menyalahi profesi konseling, sekolah tetpi memiliki peluang untuk menyelenggarakan layanan bimbingan dan konseling dengan cara mendelegsikan tugas bimbingan dan konseling kepada guru-guru yang berkelayakan. Agar memiliki kelayakan, maka guru-guru yang diserahi tugas bimbingan perlu dikirim untuk mengikuti program pendidikan khusus bimbingan baik program gelar maupun nongelar (kursus). 

  1. Peran guru kelas  dalam pengelolaan program bimbingan dan konseling menurut literatur asing

Beberapa literatur bimbingan dan konseling asing telah banyak mengemukakan peran guru dalam program bimbingan dan konseling. Terdapat keragaman di antra para penulis berkenan dengan peran guru dalam program bimbingan dan konseling dan  tergantung pada wawasan dan sudut pandang mereka. Beberapa penulis memberikan Berikut ini adalah peran guru alam program bimbingan dan konseling dari Gibson & Mithell (1995) sebagai contoh. dipilihkan satu literatur sebagai contoh.

Menurut Gibson & Mitchell (1995), sebagaimana telah dikemukakan,  para konselor di sekolah dasar atau guru klas yang diberi tugas melaksanakan tugas sebagai konselor/pembimbing memiliki beberapa fungsi berikut: sebagai konselor, sebagai konsultan, sebagai koordinator, sebagai agen orientasi, sebagai asesor tau analisis perbedaan individual, sebagai pengembang karir, dan sebagai agen pencegahan. Bagaimana dengan peran guru kels yang tidak diserahi tugas sebagai pembimbing sekolah. Meskipun par guru tidak diserahi tugas untuk melaksanakan bimbingan, mereka tetap menjadi anggota tim bimbingan yang memiliki peran berikut:

  • Sebagai pendengar dan pemberi advis. Guru kelas adalah personil sekolah yang paling banyak memiliki waktu untuk bertemu dengan para siswa dibandingkan dengan personil sekolah lainnya. Oleh karena itu, guru seharusnya memiliki pengetahuan paling luas dan mendalam tentang siswa-siswanya, berkomuniksi dengan mereka setiap hari, dan dapat menjalin hubungan yang kondusif untuk mendorong perkembangan  yang optimal setiap siswa. Dapat dikatakan guru menjadi jembatan antara siswa dan pembimbing/konselor guna mengimplementasikan program-program bimbingan.
  • Sebagai agen penerima dan perujuk siswa. Guru kelas, tak dapat dihindarkan, menjadi sumber utama bagi program-program alih tangan/rujukan dari dan pada konselor sekolah. Banyak program-program bimbingan dan konseling yang tergantung pada informasi guru tentang kondisi dan kebutuhan siswa, serta rujukan guru berkenaan dengan siswa-siswa yang membutuhkan bantuan/bimbingan. Para konselor sekolah dengan demikian perlu mendorong para guru untuk secara aktif menemukan siswa-siswanya yang membutuhkan bantuan dan kemudian merujuknya pada konseling selor. Demikian pula, setelah siswa-siswa selesai diberikan bantuan, siswa tersebut perlu dirujuk kembali kepada guru untuk dilakukan pengamatan berkenaan dengan perkembanga perilaku selanjutnya. Tentu saja para guru tidak hany merujuk siswa kepada konselor, tetapi juga perlu mendorong siswa-siswanya untuk meminta bantuan pada konselor sewaktu-waktu mereka merasa memiliki kesulitan dan tak mampu untuk memecahkannya sendiri.
  • Sebagai penelusur/pengungkap potensi siswa. Berkaitan dengan usaha mendorong terjadinya perkembangan yang optimal bagi setiap siswa, maka para guru diharapkan untuk tidak hanya memusatkan perhatian pada membelajarkan materi pelajarannya saja, tetapi juga melakukan pengamatan sehari-hari untuk menemukan potensi siswa, khususnya keunggulannya. Meskipun banyak guru meungkin kurang memiliki pengalaman, latihan, dan kepandaian yang mencukupi untuk bakat-bakat atau talenta khusus dari mayorits siswa-siswanya, guru perlu terlibat dalam upaya mengungkap bakat dan talenta para siswa. Untuk itu guru dapat mengikuti atau diikutkan dalam program-program khusus tentang penelusuran bakat siswa. Peran guru sebagai pengungkap potensi siswa tidak hanya berkaitan dengan misi dari program-program bimbingan dan konseling sekolah tetapi juga untuk memenuhi tanggung jawab pendidikan bagi individu dan masyarakat.
  • Sebagai pendidik karir. Berkaitan erat dengan peran-peran yang telah disebutkan, dalah peran sentral guru dalam program pendidikan karir. Karena pendidikan karir diakui sebagai bagia dari pendidikan siswa secara keseluruhan, adalah penting juga untuk mengakui tanggung jawab guru kelas untuk mengintegrasikan pendidikan ke dalam mata pelajaran (di Indonesia barangkali ini berkaitan dengan pendekatan kontekstual yang belakangan ini banyak dianjurkan). Pendidikan karir tak akan berhasil tanpa bimbingan karir dan sebaliknya. Keberhasilan dari program-program bimbingan karir oleh karena itu terikat dengan keberhasilan dalam progra pendidikan karir, suatu program yang berkaitan dengan peran guru kelas. Para guru kelas dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai pendidik karir dengan cara mengembangkan respek dan sikap positif terhadap semua jenis pekerjaan, mendorong siswa mengembangkan sikap positif terhadap penidikan dan hubungannya dengan persiapan karir dn pengambilan keputusan. Guru juga dapat memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguji konsep, keterampilan, dan peran serta mengembangkan nilai-nilai yang relevan dengan karir masa depan. Guru juga dapat merancang kelas menjadi suatu lingkungan belajar yang dapat merangsang wawssan dan eksplorasi karir. 
  • Sebagai fasilitatot hubungan siswa. Keberhasilan dari berbagai program bimbingan dan konseling dipengaruhi oleh iklim sekolah. Sekolah seharusnya menjadi lingkungan yang kondusif untuk memfasilitasi pengembangan dan pelaksanaan hubungan antar manusia yang positif. Dalam hal ini, guru memiliki peran yang domi an untuk menciptakan iklim semacam itu. Seorang ahli pendidikan, Benyamin Bloom, melalui Bukunya yang berjudul Human Characteristics and School Learning (1976) telah mengemukakan peran lingkungan atau iklim kelas sebagai faktor yang mempemngaruhi kinerja dan hasil belajar siswa. Menurutya, iklim lingkungn kelas yang kondusif dapat memungkinkan 95% siswa menguasai semua mata pelajaran. Hasil-hasil penelitian juga telah membuktikan hal itu. Hasil penelitian Bloom  sendiri membuktikan bahwa   banyak siswa akan memperlihatkan kesamaan baik dalm derajad belajar maupun motivasi untuk belajar jika merewka diberikan suatu kondisi lingkungan yang kondusif untuk blajar. Di sisi lain, beberapa hasil penelitian juga menyatakan bahwa jika lingkungan di kelas tiak kondusif, akan terjadi perbedaan dalam kinerja dan capaian prestasi belajar dan ini akan memperluas gap (jarak) antara siswa berprestasi tinggi dan siswa berprestasi rendah. Dalam melaksanakan peran sebagai fasilitator hubungan ini, guru kelas memiliki peluang untuk menjadi model bagi bentuk relasi antara manusia yang positif. Ini dapat menjadi suatu prosedur rutin di dalam kelas, khususnya ketika guru mengarahkan interaksi kelompok agar setiap siswa dapat mengalami secara langsung hubungan antar manusia yang positif.
  • Sebagai pendukung program-program bimbingan dan konseling. Sebagai anggota tim dalam pengelolaan bimbingan dan maupun dalam mendorong perkembangan yang optimal bagi setiap peserta didik, guru memiliki peran penting untuk mendorong atau memberikan dukungan pada pelaksanaan program-program bimbingan dan konseling sekolah. Dukungan ini dapat diberikan antara lain dengan cara memberikan informasi kepada siswa tentang program-program bimbingan dan konseling sekolah dan bagaimana mereka dapat memanfaatkan program-program tersebut. Bertindak sebagai agen referal seperti telah dikemukakan di atas, tentu saja juga merupakan bagian dari dukungan yang dapat diberikan oleh guru kepada konselor. Guru juga dapat mendukung konselor dalam memfasilitasi program-program penilaian individual atau pengumpulan dan inventarisasi data siswa. Meskipun scara teoretik diakui bahwa guru kelas memainkan peran penting dalam mengefektifkan program-program bimbingan dan konseling di berbagai jenjang pendidikan, tapi faktanya para guru kelas masih secara insidental terlibat dalam program-program bimbingan dan konseling. Banyak guru kelas mungkin merasa tidak yakin tentang tujuan bimbingan dan kurang menjalin komunkais dengn konselor. Dalam situsi seperti ini siswa tentu aja menjadi pihak yang sangat dirugikan da para konseor dan guru harus brbagai rasa bersalah untuk itu. Mungkin juga guru beranggapan bahwa program bimbingan menjadi tanggung jawab konselor sekolah dan konselor sekolah harus secara aktif melakukan komunikasi dengan para guru untuk melaksanakan program-program bimbingan. Blum (1986) menyatakan bahwa para konselor perlu memiliki kesadaran bahwa meskipun banyak guru bersedia menerima peran mereka dalam pengelolaan program bimbingan dan konseling sekolah, banyak di antara guru yang kurang memiliki pemahaman yang tepat tentang apa peran dan fungsi mereka sebenarnya.  

Menurut  Depdikbud dalam kurikulum 1975 tugas guru kelas/ wali kelas terkait dengan pelaksanaan bimbingan dan konseling adalah:

1)      Mengumpulkan data tentang siswa

2)      Meneliti kemajuan dan perkembangan siswa ( akademis, sosial, fisik, pribadi)

3)      Mengawasi kegiatan siswa sehari-hari

4)      Bekerjasama dengan konselor menyalurkan dan menempatkan siswa

5)      Bekerja sama dengan konselor dalam membuat sisiogram

6)      Bekerjasama dengan konselor sekolah dalam mengadakan pemeriksaan psikologis dan kesehatan oleh tim ahli

7)      Mengidentifikasi siswa yang memerlukan bantuan

8)      Membantu memecahkan masalah siswa asuhnya

9)      Ikut serta dalam pertemuan kasus

 

sumber : Buku Bimbingan Konseling di Sekolah Dasar

              Drs. Moh Nursalim, MSi dan Drs. Eko Darminto, MSi 

Untuk informasi artikel lebih lengkap dapat melihat buku, dan dapatkannya di Kampus PPB UNESA (ada sebagian artikel yang tidak di muat dalam blog)


Komentar :

No Komen : 1
:: 08-04-2013 06:01:17
aya lach gow....
 
Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • Silabus dan RPP Bimbingan Konseling berkarakter
    27-01-2012 18:06:47  (771)
  • Buku Pribadi Siswa untuk BK
    21-02-2012 23:13:55  (310)
  • Pembuatan Alat Peraga Bimbingan Konseling
    14-03-2012 09:09:01  (214)
  • Tes Karakter Orang
    18-02-2012 04:20:47  (205)
  • Saatnya Mengukur Sendiri Tingkat IQ Anda
    12-02-2012 12:43:11  (203)

Pengunjung

    1244689

PENCARIAN ARTIKEL


SILAKAN KETIK KATA KUNCI DIBAWAH INI

SELAMAT DATANG

Website ini dipersiapkan sebagai wadah saling berbagi keilmuan dan media pembelajaran dari berbagai sudut pandang Psikologi, Manajemen Sekolah, Perkembangan Dunia Pendidikan, Agama, Sosial, Budaya, dan Politik di Indonesia. Untuk Pengembangan website lebih lanjut sangat diharapkan masukan, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pengunjung tercinta. Semoga artikel yang ada di dalam website dapat bermanfaat untuk kita semua, amin.

Motto Hidup

Torehkan Prasasti Hidup Dalam Wujud Keilmuan

Blog Guru Indonesia

Bookmark and Share

HUBUNGI PENULIS

Bagi pengunjung yang mencari informasi lebih jauh terkait artikel di website ini silakan hubungi kami di 081913042100 atau email ndorodemang@kemenag.go.id Trima Kasih.

Hadir di Facebook

Link Partner