WEB PSIKOLOGI & PENDIDIKAN


MENGUPAS TUNTAS KEILMUAN PSIKOLOGI DAN KEPENDIDIKAN
Dampak Media Massa Terhadap Masyarakat

Media massa adalah suatu alat yang digunakan seseorang untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat luas atau banyak. Media massa merupakan media yang selalu mendapat perhatian dari masyarakat luas. Kehidupan manusia pada masa sekarang ini hampir tidak pernah lepas dari media massa baik itu televisi, koran, radio, ataupun internet. Setiap manusia hampir dapat dipastikan bahwa manusia akan berhubungan dengan media massa. Dapat kita lihat berapa jam orang akan melihat televisi dalam satu hari. Semakin lama waktu orang melihat televisi, maka akan semakin banyak pula hal-hal baru yang dapat ia ketahui. Dari paparan diatas maka dapat kita lihat bahwa suatu media massa mau tidak mau pasti akan mempengaruhi perilaku manusia yang berinteraksi dengannya (media massa).

Dalam suatu penelitian diketahui bahwa orang yang sering melihat film kekerasan beranggapan bahwa kemungkinan terjadinya kekerasan terhadap seseorang dijalan sebanyak dua puluh berbanding satu. Padahal pada kenyataannya kemungkinannya sebesar lima puluh berbanding satu. Dari sini dapat kita lihat bahwa dengan sebuah film yang sering dilihat dapat membentuk penilaian seseorang tentang suatu hal, dan penilaian tersebut sangat jauh berbeda dari kenyataan. Dengan demikian intansitas melihat film dapat membentuk perspektif seseorang.

Adanya kenyataan demikian sering pula dimanfaatkan oleh para elit politik untuk memperoleh jumlah suara saat menjelang pemilu. Sering elit politik tertentu membuat tayangan-tayangan tentang kegiatan sosialnya pada suatu stasiun televisi dalam intensitas yang besar. Elit politik ini berusaha membentuk pandangan masyarakat luas tentang dirinya. Hampir sama dengan hal diatas, terdapat seorang aktor film yang dinilai memanfaatkan ketenarannya guna mendukungnya untuk suatu pencalonan pemilihan gubernur. Dari seringnya ia tampil di film ia telah memiliki citra sendiri yang diberikan oleh masyarakat. Dan citra yang dibuat oleh masyarakat inilah yang dimanfaatkan untuk menarik dukungan atau simpati dari masyarakat.

Spiral of silence, suatu teori tentang pengaruh khalayak luas terhadap pendapat individu. Teori itu menjelaskan bahwa pada suatu ketika pendapat dari masyarakat tentang hal tertentu akan terbagi atas dua kelompok. Kelompok ini terdiri dari kelompok besar dan kelompok kecil. Kelompok mayoritas (kelompok besar) akan selalu mendominasi pendapat dari masyarakat. Pendapat dari kelompok kecil (kelompok minoritas) suaranya akan hilang atau tidak terdengar. Lama kelamaan kelompok minoritas tidak memiliki nilai tawar sehingga kelompok minoritas akan mengikuti kelompok mayoritas.

Pada jaman mendatang penguasaan terhadap komunikasi akan menjadi senjata ampuh untuk menguasai dunia. Amerika sebagai contoh, dengan penguasaannnya terhadap segala bentuk informasi maka ia dapat selalu mengklaim dirinya memenangkan suatu peperangan. Atau ia dapat mengklaim negara lain sebagai sarang teroris hanya dengan pemberitaaan yang ia lancarkan secara gencar. Amerika selalu membuat kebohongan-kebohongan terhadap publik atau masyarakat untuk membuat citra dirinya sebagai pahlawan.

Penayangan suatu hal di suatu media massa yang sering diperhatikan oleh masyarakat luas akan dapat membentuk pandangan masyarakat terhadap hal tersebut. Dengan demikian peran media massa akan berpengaruh besar dalam membentuk persepsi masyarakat. Adanya anggapan siapa yang mampu menguasai media massa maka kemungkinan besar ia yang akan mampu menguasai dunia. Hal ini dapat dipahami karena dengan dikuasainya media massa maka ia akan mampu membentuk pandangan masyarakat. Persepsi dari masyarakat akan berpengaruh pada perilakunya dalam menanggapi setiap kejadian. Dengan mampunya membentuk pandangan masyarakat, maka akan dapat menguasai seluruh masyarakat karena kelompok mayoritas akan mampu mengalahkan kelompok minoritas. Dalam konteks luas pembentukan persepsi masyarakat luas akan dapat mengubah adat budaya dari masyarakat tersebut, misal adanya perubahan dari cara menanggapi suatu kejadian. Dengan demikian nyatalah pengaruh media terhadap perilaku sosial manusia.

 

Pengaruh Media Massa terhadap Masyarakat

Beralihnya suatu masyarakat tradisional menjadi modern, beriringan dengan munculnya gelombang urbanisasi. Berdasarkan data yang ada, setiap tahunnya jumlah penduduk perkotaan di negara-negara berkembang bertambah sekitar 45 juta orang. Bahkan pertumbuhan tingkat urbanisasinya melebihi pertumbuhan industrialisasi. Meski kehidupan perkotaan dan modern mampu menghasilkan beragam fasilitas, kemudahan, dan kesejahteraan material bagi para penduduknya, namun begitu, kehidupan modern juga banyak melahirkan persoalan dan krisis sosial baru.

Kini, isu kesehatan sosial merupakan salah satu masalah yang vital. Media massa sebagai perangkat sosialisasi yang paling berpengaruh, tentu bisa berperan efektif berkenaan dengan masalah kesehatan sosial. Namun persoalannya, bagaimanakah posisi dan peran media massa terhadap isu tersebut? Nah, saudara dalam acara Perspektif kali ini, kami mencoba mengajak Anda mengkaji posisi dan peran media massa dalam masalah kesehatan sosial masyarakat.

Ada banyak jawaban yang diajukan oleh para pakar sosial mengenai peran media massa terhadap isu kesehatan sosial masyarakat. Peran media massa dalam hal ini bergantung pada tujuan dan publik yang digarapnya. Sebagian besar pengamat mengkritik keras aktifitas media massa negara-negara besar Barat. Mereka berkeyakinan, media-media Barat sering merekayasa kenyataan, sehingga bisa mengancam kesehatan sosial masyarakat. Jean Baudrillard, pakar media asal Perancis, meyakini bahwa media merupakan perangkat untuk mengacaukan hakikat dan kenyataan beragam persoalan. Lebih lanjut ia memaparkan, "Apa yang kita anggap sebagai realitas, sejatinya adalah pandangan media terhadap isu tersebut. Bisa dikatakan, realitas bisa terwujud dalam berbagai bentuk sesuai dengan banyaknya media dan gambar. Dengan kata lain, simbol realitas telah menggantikan realitas itu sendiri.

Menurut Baudrillard, batas realitas dan hiburan telah kabur. Gambar telah memberikan identitas maya terhadap kenyataan, hingga berita politik ditampilkan tak ubahnya suatu hiburan, dan peristiwa nyata mengenai perang dan pembantaian berubah menjadi layaknya naskah sandiwara melodrama ataupun tragedi. Berkelindannya budaya, politik, dan hiburan ini sebegitu eratnya hingga batas antar realitas menjadi tumpang tindih, dan tak lagi bisa ditentukan batas tegasnya.

Campur aduknya realitas dengan perkara maya di Barat, memunculkan krisis sosial di tubuh masyarakat Barat. Sebagian peneliti, menuding media massa sebagai biang utama krisis sosial di negara-negara industri, khususnya di AS. Penyebaran kekerasan lewat media merupakan salah satu masalah yang bisa mengancam kesehatan sosial masyarakat. Sejumlah hasil penelitian di AS menunjukkan kekerasan yang kerap ditampilkan oleh media massa AS merupakan salah satu faktor yang berpengaruh penting terhadap munculnya kekerasan di tengah masyarakat. Hasil analisa terhadap lebih dari 8000 jam program televisi dan parabola AS membuktikan bahwa 60 persen dari program televisi AS merupakan produk acara yang mengandung kekerasan. Dengan kata lain, bocah-bocah AS sebelum lulus SD, mereka telah dijejali dengan lebih dari 8000 tayangan pembunuhan, dan ratusan ribu tindak kekerasan lainnya seperti aksi saling pukul, baku tembak, dsb. Dengan begitu, ketika masyarakat Barat tak lagi mampu membedakan antara kenyataan dan fenomena maya, mereka pun menjadi acuh dan abai terhadap persoalan yang terjadi di dunia.

Terjadinya kasus pembantaian di SMA Columbine, Colorado, AS pada tahun 1999 merupakan salah satu contoh kasus kekerasan berdarah di negara ini. Kasus-kasus semacam ini merupakan salah satu indikator bobroknya nilai-nilai moral dan kemanusiaan di negeri Paman Sam. Dalam peristiwa tragis ini, dua remaja menembak membabi-buta hingga menewaskan 12 rekan siswa dan seorang guru.

Salah satu produk media massa yang berdampak negatif terhadap kesehatan sosial masyarakat, adalah program semacam iklan dan tayangan hiburan. Media banyak menampilkan iklan yang berefek buruk terhadap anak-anak dan remaja. Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa iklan rokok bisa menarik perhatian anak-anak dan remaja, sehingga berpotensi menjadikan mereka sebagai konsumen rokok. Begitu juga dengan iklan dan promosi minuman keras dalam acara-acara hiburan. Iklan semacam ini bisa merubah pandangan dan membangkitkan keinginan remaja untuk meminum minuman keras. Padahal betapa banyak riset yang membuktikan, bahwa minuman keras merupakan biang aksi kekerasan dan kriminalitas.

Dampak buruk lainnya media massa adalah kekuatan media dalam mengubah dan membentuk gaya hidup seseorang. Sejumlah peneliti mengungkapkan, menonton telivisi secara berlebihan di kalangan anak-anak bisa menyebabkan cara hidup yang pasif dan malas bergerak pada anak-anak. Hal ini mengakibatkan munculnya gejala semacam kegemukan, kebiasaan makan yang salah, naiknya kolesterol, penyakit pencernaan, dan gangguan psikologis.

Kian meningkatnya arus urbanisasi di negara-negara berkembang, memunculkan pula gaya hidup perkotaan ala Barat. Padahal, setiap negara memiliki kebudayaan dan keyakinan khas yang terkadang berseberangan dengan nilai-nilai Barat. Karena itu, media-media massa lokal harus memberikan perhatian yang lebih serius terhadap nilai dan budaya setempat masyarakatnya.

Meski demikian, media massa juga bisa berperan positif bagi masyarakat. Karena itu, masalah kesehatan sosial masyarakat harus kita kaji dari beragam sisi. Dari sisi moral, masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral, semacam cinta sesama manusia, menghormati hak-hak orang lain, menyebarnya tradisi saling memaafkan dan mengasihi. Terkait hal ini, media massa bisa berperan positif dalam menyebarkan dan membumikan nilai-nilai moral. Penayangan acara yang mendidik namun menghibur merupakan salah satu cara efektif bagi media untuk membangun masyarakat yang sehat.

Beragam riset yang dilakukan oleh para ilmuan membuktikan bahwa merebaknya penyakit semacam AIDS memiliki kaitan erat dengan lemahnya keyakinan religius seseorang. Sebagian besar penderita AIDS adalah mereka yang pernah melakukan hubungan seks di luar nikah. Indikator ini merupakan salah satu bukti bahwa agama memiliki peran yang vital dalam menciptakan kehidupan sosial yang sehat. Agama bisa memberikan solusi dan mengajarkan cara hidup yang sehat bagi masyarakat. Agama juga berperan penting dalam membangun kebersamaan dan solidaritas di tengah masyarakat.

Media massa juga bisa berperan sebagai sumber rujukan di bidang pendidikan dan penyebaran informasi yang cepat. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan tingkat pengetahuan masyarakat. Sekarang ini, media memiliki andil yang penting dalam mengajak masyarakat untuk memerangi kekerasan, dan tindak kriminalitas.

Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah prilaku masyarakat.

perbedaan dan ketidakjelasan didunia ini. Banyak juga segi positif lain yang bisa kita dapat dari keberadaan TV dan radio, misalnya sebagai media rekreasi.

Dengan memiliki TV dan radio, kita pun dapat mencapai keseimbangan hidup baik dari segisosial dan etika. Melalui penyampaian program-program acara dan siaran berisi edukasi danentertainment (Edutainment) yang berkualitas, maka diharapkan sistem transfer informasidapat berjalan baik. Akan tetapi karena begitu besarnya peran dan daya pikat yang timbul dari keberadaan TV dan radio, akhirnya juga menimbulkan pengaruh buruk dalam kehidupan apabila disalah fungsikan. Hal tersebut berasal dari berbagai aspek TV dan radio sendiri, misalnya pengaruh efek sinar, gerak, dan suara yang dihasilkan dan efek jenis, kuantitas, dan kualitas siaran ataupun program yang ditampilkan. Kesemuanya itu memberikan pengaruh yang kompleks baik sisi psikologis, kehidupan sosial dan kesehatan jasmani masing-masing individu. Salah satu contoh efek negatif yang muncul di TV dan radio adalah acara atau iklan yang terlihat lebih mementingkan sisi komersial semata tanpa memikirkan sisi edukasinya. Pada hakekatnya, iklan pada TV dan radio tersebut dibuat dan disampaikan sebagai media promosi dari suatu produk dan pelayanan sebagai wujud hasil kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebenarnya, media promosi itu sendiri adalah alat untuk promosi yang berisi
pemaparan secara faktual, logis dan realistis. Tetapi faktanya sekarang ini, banyak terjadi penyalahgunaan yang terjadi dalam dunia pariwara. Dengan menghalalkan segala cara iklan-iklan pada TV dan radio dibuat dan disampaikan secara berlebihan dan tidak jujur, menyesatkan, jauh dari hakekat peranan iklan sebenarnya. Tampilan iklan-iklan terkesan hanya memunculkan sisi kelebihan untuk menjaring keuntungan sebesar-besarnya (profit oriented) dan menutupi kenyataan keburukan dari suatu produk yang sebenarnya ada (non konsumen oriented) pada sisi lainnya.

Keluarga sebagai pemirsa dan obyek dari TV dan radio merupakan santapan empuk penyalahgunaan iklan tersebut, terutama pada anak-anak dengan pengaruh yang sangat besar karena mereka masih dalam proses perkembangan kognitif dan mental-jasmani. Menurut
penelitian, rata-rata anak tertarik menonton info komersiil tersebut disebabkan mereka mudah dipengaruhi oleh komunikasi yang bersifat satu arah, yaitu oleh ucapan, dari janji dan gambar menarikyang disampaikan. Hal ini kontras dibandingkan orang dewasa yang lebih memilih
memindahkan channel, rehat sementara atau tidak memperhatikan sama sekali sampai info komersial itu selesai. Selain itu, pengaruh buruk iklan yang salah adalah anak-anak lebih cenderung berpikirinstant. Dalam arti, segala sesuatu kebutuhan dipikirkan oleh anak dapat dengan mudahmereka miliki atau ketahui, tanpa ada usaha untuk mendapatkannya. Kemudian anak-anak juga masih menghadapi kesulitan dalam membedakan antara fantasidan kenyataan, contoh kongkrit pada iklan yang berisi khayalan aksi heroik, maka secaralangsung merangsang mereka untuk meniru tanpa berpikir panjang efek buruk yang sudahmenanti. Bahkan lebih ekstrim lagi, iklan TV dan radio dapat dianggap sebagai panutan,bukan orang tua mereka masing-masing.

Akibat lebih jauh yang dominan yang timbul adalah pada perkembangan kejiwaan anak yang terganggu, terutama perilaku yang berubah menjadi lebih agresif, non kooperatif dan penurunan intelektualitas. Oleh karena itu, diperlukan antisipasi dini terutama dari dalam keluarga (orang tua).
Meskipun iklan maupun acara TV dan radio mengandung unsur negatif, tetapi juga memiliki esensi positif didalamnya sebagai bagian kecil dari keseimbangan hidup anak-anak. Disinilah peran sentral para orang tua untuk mengarahkan dan memberikan bimbingan untuk membentuk persepsi yang benar terhadap suatu iklan. Yang terpenting pula adalah memberikan waktu yang cukup kepada anak-anak untuk bermain dan lebih bersosialisasi dengan teman-teman sepermainannya, punya waktu luang yang cukup untuk membaca cerita dan istirahat atau tidur, serta punya waktu untuk berekreasi dan menikmati makna arti kehangatan sebuah keluarga. Pada akhirnya secara aktif memberikan stimulus suasana yang menyenangkan diantaranya dengan permainan-permainan yang sehat yang membantu perkembangan otak dan nutrisi yang cukup, karena secara umum anak lebih senang belajar dengan melakukan berbagai hal baik sendiri maupun berkelompok. Jadi bukan terus-menerus membiarkan kebiasaan mereka menonton TV dan menyimak radio terlalu lama, terutamafantasi dari acara dan iklan yang ditampilkan.

Media mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukan kognisi seseorang. Media memberikan informasi dan pengetahuan yang pada akhirnya dapat membentuk persepsi. Dan penelitian menunjukan bahwa persepsi mempengaruhi sikap (attitude) dan perilaku
seseorang. Kognisi adalah semua proses yang terjadi di fikiran kita yaitu, melihat, mengamati, mengingat, mempersepsikan sesuatu, membayangkan sesuatu, berfikir, menduga, menilai, mempertimbangkan dan memperkirakan. Teori agenda setting yang dikemukakan oleh Maxwell Mc Combs dan Donald Shaw adalah salah satu teori tentang proses dampak media atau efek komunikasi massa terhadap masyarakat dan budaya. Teori ini termasuk dalam Phase 3 dari The Primes Of Media Effect yakni Powerful Media Rediscovered. Meskipun biasanya lebih dirujuk sebagai fungsi belajar media massa dari pada sebagai teori. Agenda setting menggambarkan kekuatan pengaruh media yang sangat kuat terhadap pembentukan opini masyarakat, pada teori tersebut menyatakan bahwa: “media massa, dengan memperhatikan pada beberapa isu tertentu dan mengabaikan lainnya, akan mempengaruhi opini public. Orang cenderung mengetahui tentang hal-hal yang disajikan oleh media massa dan menerima susunan prioritas yang ditetapkan media massa terhadap berbagai isu tersebut”.

Media massa yang semakin terbuka dan bebas membuat kita perlu memfilter atu menyaringnya sebelum mengaplikasikannya kedalam pikirin kita, apakah ini benar atau salah sehingga kita tidak perlu terbawa terlalu jauh kedalam dampak-dampak negatif dan buruk yang dibawa media massa terhadap kehidupan kita sehari-hari. Bagi anak-anak peranan orang tua sangatlah penting dalam peneyerapan informasi dari media

cetak dan elektronik.

Apa yang harus dilakukan orangtua?

1.Beri batasan waktu untuk menonton televisi. Kapan ia boleh dan kapan waktunya ia harus berhenti menonton televisi. Untuk anak prasekolah, kondisi tersebut mungkin agak sulit karena pada usia tersebut anak sudah mulai bisa membantah. Cobalah membuat kesepakatan bersama mengenai batasan-batasannya. Misalnya jenis tayangan yang ia inginkan dan lamanya waktu menonton. Untuk batita, tetapkan batasan waktunya, yaitu cukup satu jam sehari. Sedangkan untuk usia prasekolah boleh menonton televisi kurang dari dua jam sehari.

 

2.Manfaatkan waktu yang sedikit tersebut sekaligus sebagai sarana belajar anak. Duduklah bersama anak dan diskusikan isi tayangan pilihannya.

3.Siapkan kegiatan alternatif pengganti agar anak tidak lagi merengek dan kembali menonton televisi.

4.Tanamkan nilai-nilai keluarga secara berulang agar anak mengerti apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya sehingga anak lebih percaya diri menghadapi teman-temannya.

Dampak media (media effects) adalah perubahan kesadaran, sikap, emosi, atau tingkah laku yang merupakan hasil dari interaksi dengan media. Istilah tersebut sering digunakan untuk menjelaskan perubahan individu atau masyarakat yang disebabkan oleh terpaan media.

Perkembangan pemikiran dan teori tentang dampak media mempunyai sejarah alamiah karena dipengaruhi oleh setting waktu, tempat, faktor lingkungan, perubahan teknologi, peristiwa-peristiwa sejarah, kegiatan kelompok-kelompok penekan, para propagandis, kecenderungan opini publik, serta beragam penemuan-penemuan dan kecenderungan yang berkembang dalam kajian ilmu-ilmu sosial.

McQuail (2000: 417-421) mememetakan perkembangan pengetahuan mengenai riset media ke dalam empat tahap. Tahap pertama, all-power media. Pada fase pertama ini, media diyakini mempunyai kekuatan yang sangat berpengaruh dalam menentukan opini dan keyakinan, mengubah kebiasaan hidup (habits of life) dan menentukan perilaku sebagaimana ditentukan oleh pengontrol pesan atau media. Pandangan-pandangan ini tidak didasarkan pada investigasi ilmiah, tetapi lebih didasarkan pada observasi tentang popularitas media seperti koran, radio, dan film dalam mengintervensi banyak aspek kehidupan manusia dalam hubungan-hubungan publik. Penggunaan media oleh para propangandis dalam Perang Dunia I yang disponsori  negara-negara diktator dan rezim revolusioner yang di Rusia semakin menegaskan kuatnya pengaruh media pada saat itu.

Tahap kedua, pengujian teori media powerfull. Transisi ke arah penelitian empiris telah mendorong munculnya tahap kedua yang mulai memikirkan tentang dampak media. Penelitian semacam ini dimulai oleh riset literatur yang dilakukan atas Paine Fund Studies di Amerika pada awal tahun 1930-an. Studi ini memfokuskan pada pengaruh film terhadap anak-anak dan remaja. Studi-studi terpisah lainnya menyangkut dampak tipe-tipe pesan dan media yang berbeda, khususnya film atau program-program aktivitas kampanye. Studi-studi pada era ini dikonsentrasikan pada kemungkinan penggunaan film dan media yang lain untuk melakukan aktivitas komunikasi persuasif. Pada tahap ini, penelitian-penelitian yang menggunakan metode eksperimental telah mulai dilakukan seperti penelitian Hovland et.al (1950), Hughes (1950), Lazarsfeld et. al (1944), dan Berelson et.al. (1954) (McQuail, 2000: 418). Penelitian-penelitian semacam ini terus berlanjut ke dalam kemungkinan dampak buruk media terhadap anak-anak pada era tahun 1950-an. Kesimpulan yang dapat diambil dari perubahan-perubahan penelitian pada tahapan ini adalah seiring perkembangan metode penelitian, fakta, dan teori menyarankan adanya sejumlah variabel-variabel baru yang seharusnya dipikirkan atau diperhitungkan dalam membahas dampak media. Para peneliti mulai membedakan kemungkinan-kemungkinan dampak yang berbeda menurut karakteristik sosial dan psikologis; mereka mulai memperkenalkan sejumlah faktor yang berhubungan dengan dampak pengantara seperti kontak personal dan lingkungan, dan tipe-tipe motif seseorang dalam mengakes media. Meskipun demikian, tidak berarti bahwa media massa tidak mempunyai dampak sama sekali terhadap audience.

Tahap ketiga, penemuan kembali kekuatan dampak media. Pada tahap ini, kesimpulan tahap sebelumnya yang mengatakan bahwa media tidak mempunyai dampak terhadap audience atau mempunyai dampak minimal telah mendapatkan tantangan. Salah satu faktor yang menjadi penyebab penolakan mengenai teori dampak minimal adalah munculnya televisi pada era 1950-an dan 1960-an sebagai sebuah medium yang mempunyai kekuatan atraktif dan dampak besar dalam kehidupan sosial. Penelitian awal mulai menggunakan suatu model yang dipinjam dari displin ilmu psikologi yang berusaha mencari hubungan antara tingkat pajanan media (media exposure) dengan ukuran-ukuran perubahan atau variasinya dengan sikap, pendapat, informasi atau perilaku, dan sejumlah  variabel pengantara. Pada tahap ini, telah terjadi pergeseran perhatian ke arah perubahan-perubahan jangka panjang dan kognisi dibandingkan dengan sikap, dampak, dan ke arah fenomena kolektif seperti pendapat, struktur keyakinan, ideologi, pola-pola budaya dan bentuk-bentuk institusional media (McQuail, 2000: 420). Penelitian-penelitian berikutnya mulai menaruh perhatian pada bagaimana media memproses dan menentukan isi pesan sebelum disampaikan ke audience.

Tahap keempatnegotiated media influence. Pada akhir 1970-an, muncul suatu pendekatan baru yang lebih dikenal dengan pendekatan konstruksi sosial. Pada dasarnya, pendekatan ini melibatkan pandangan media yang mempunyai pengaruh signifikan melalui konstruksi makna. Pendekatan konstruksi sosial menawarkan suatu  pandangan bahwa pengaruh media terhadap audiens melalui proses negosiasi ke dalam struktur pemaknaan personal, yang seringkali ditentukan oleh identifikasi kolektif. Makna dikonstruksi oleh penerima pesan itu sendiri. Proses mediasi ini melibatkan konteks sosial penerima pesan.

Diskusi mengenai dampak merupakan akibat dari apa yang dilakukan media, baik secara sengaja atau tidak sengaja. Berkaitan dengan tingkat dan jenis efek media, Klapper (1960, dalam McQuail, 1997) membedakan efek media ke dalam tiga jenis: conversion, minor change, dan reinforcement, yang secara berturut-turut merepresentasikan perubahan pendapat atau keyakinan menurut maksud komunikator; perubahan dalam bentuk atau intensitas kesadaran, keyakinan atau perilaku; dan peneguhan atas keyakinan yang telah ada, pendapat, atau pola-pola perilaku. Selain itu, dampak media juga dapat dibedakan ke dalam dampak yang bersifat kognitif, afektif, dan perilaku (konatif/behavioural).

Dampak media juga dapat dibedakan ke dalam tingkatan individu, kelompok atau organisasi, institusi sosial, keseluruhan masyarakat, dan budaya (McQuail, 2000: 423). Lebih lanjut, McQuail (2000: 424) membedakan jenis-jenis perubahan yang dipengaruhi media adalah sebagai berikut: media menyebabkan perubahan yang disengaja, media dapat menyebabkan perubahan yang tidak disengaja, media dapat menyebabkan perubahan minor (bentuk atau intensitas), media dapat memfasilitasi perubahan (sengaja ataupun tidak), memperkuat yang sudah ada (tanpa perubahan), dan mencegah perubahan.

Dimensi lain diskusi mengenai dampak media adalah menyangkut dampak media dalam jangka pendek (short-term effect) dan dampak jangka panjang (long-Term Effect). Pandangan-pandangan mengenai dampak jangka pendek ini meliputi tipe-tipe sebagai berikut: respons dan reaksi individu (individual response and reaction), media dan kekerasan, model dampak perilaku (a model of behavioural effect), dampak reaksi kolektif (collective reaction effects), kampanye, dan propaganda.

Dalam kaitan ini, diantara isu-isu yang berkembang dalam riset dampak media, isu mengenai dampak media terhadap perilaku agresif atau dampak media yang berkenaan dengan kekerasan dan perilaku agresif telah menjadi objek banyak sekali penelitian (McQuail, 2007: 434). Menurut McQuail, keyakinan yang sangat kuat mengenai adanya korelasi antara kekerasan dalam layar kaca dengan kekerasan aktual yang terjadi dalam masyarakat telah menjadi objek ribuan studi, tetapi tidak terdapat kesepakatan mengenai derajat pengaruh kekerasan dalam layar kaca terhadap kekerasan aktual dalam masyarakat.

Penelitian yang dilakukan oleh US Surgeon General pada akhir 1960-an menyimpulkan sebagai berikut (Lowery and Defleur, 1995 seperti dikutip McQuail, 2000:  434). Pertama, muatan program televisi dipenuhi dengan kekerasan. Kedua, anak-anak menghabiskan lebih banyak waktu bersinggungan dengan program televisi yang mengandung kekerasan. Ketiga, di atas semuanya, bukti-bukti mendukung hipotesis bahwa menonton program-program hiburan yang berbau kekerasan mempunyai kemungkinan meningkatkan perilaku agresif. Sementara itu, dampak jangka panjang berangkat dari pandangan bahwa komunikasi dalam ranah ekonomi dan pembangunan, secara sadar dapat digunakan untuk mempromosikan perubahan jangka panjang. Banyak fakta yang mendukung upaya-upaya setelah Perang Dunia Kedua untuk menggunakan media sebagai alat kampanye kemajuan teknis di bidang kesehatan dan pendidikan di negara-negara sedang berkembang, yang sering mengikuti model-model yang dikembangkan di pedesaan Amerika Serikat (Katz et.al., 1963, seperti dikutif McQuail, 2000: 450).

Menurut McQuail (1997), model-model dampak media jangka panjang ini menyangkut model-model difusi, distribusi pengetahuan, persebaran berita dan proses belajar dari berita (news diffusion and learning from news), framing effects, agenda-setting, knowledge gaps, perubahan jangka panjang yang tidak direncanakan, sosialisasi, pengonstruksian dan pendefinisian realitas, the spiral of silence, penanaman, dan media dan perubahan budaya, dan lain sebagainya.

Dalam konteks teknologi, dengan hadirnya internet misalnya, ada beberapa dampak yang patut dicatat. Pertama, salah satu pengaruh yang amat kuat dari munculnya komunikasi melalui internet adalah hilangnya diferensiasi sosial dan dengan itu menjadi tidak relevan lagi berbagai hierarki sosial. Hubungan sosial semakin ditentukan oleh kebebasan dan kepercayaan dan bukannya oleh pengekangan dan ketundukan kepada kekuasaan. Kedua, dengan adanya arus lalu lintas informasi melalui information superhighway, hampir tidak mungkin pula mengawasi akses setiap orang kepada informasi mengenai apa saja (Abrar, 2003).

Pada tataran individu, orang yang menggunakan internet akan mengalami realitas di luar apa yang dijalaninya sehari-hari. Pada titik tertentu orang-orang yang mengakses teknologi informasi dengan fasilitas komunikasi via internet misalnya, menjadi tidak peduli dengan tatanan moral, sistem nilai dan norma yang telah disepakati dalam masyarakat selama berabad-abad. Intinya tidak lagi peduli pada aturan yang ada. Belum lagi sikap individualisme yang makin meninggi makin ditunjang dengan sifat internet sebagai komunikasi interaktif yang tidak mengharuskan komunikasi pertemuan “fisik”.

Sebaliknya, di sisi lain, sejarah juga mencatat kontribusi positif internet. Masuknya lembaga pers dalam memanfaatkan internet untuk jurnalisme misalnya, telah membantu masyarakat dalam memanfaatkan teknologi ini secara maksimal. Internet mampu mewadahi teknologi cetak, radio dan televisi. Saat meletus Perang Teluk II contohnya, orang tidak lagi menghabiskan waktunya untuk menonton televisi, tetapi cukup mengikutinya via internet. Informasi yang ditampilkan tidak saja di-update setiap saat, tetapi juga lebih menarik dan lengkap dengan format teks, audio, dan audiovisual (Yusuf dan Supriyanto, Jurnal Komunikasi, 2007: 101).

Dengan semakin bertambahnya kemampuan internet dalam menyajikan tampilan atraktif dan kecepatan yang semakin tinggi, semakin banyak orang menjadikan internet tidak hanya untuk mencari informasi tetapi juga berbagai keperluan lain. Dari mencari jodoh, teman kencan, pekerjaan, beasiswa, hingga transaksi barang-barang ilegal. Berdasarkan sebuah penelitian, hampir 90% mahasiswa di Amerika  mencari informasi yang berkaitan dengan studi mereka melalui internet. Kondisi demikian telah menjadikan internet sebagai media komunikasi antar manusia di seluruh planet bumi ini, sehingga memunculkan komunitas-komunitas maya yang dikenal dengan istilah netizen, warga negara dunia maya yang melakukan berbagai interaksi, komunikasi, dan transaksi secara online (Yusuf, 2007: 178).

Dari sisi ilmu pengetahuan, khsususnya terkait dengan riset ilmiah, internet memberikan sumbangan yang sangat besar, terutama berkaitan dengan pengurangan personel pengambilan data, biaya untuk mengurangi perjalanan fisik, dan penghematan waktu. Di samping server-server yang menyediakan data sekunder, komunitas-komunitas dunia maya merupakan sumber penyedia responden untuk mendapatkan data primer dengan lebih cepat, mudah, dan biaya lebih murah.

Anak-anak dan remaja di bawah umur adalah golongan netter yang paling dikhawatikan menjadi korban penyalahgunaan internet. Dari masalah-masalah sederhana sampai persoalan serius yang berimplikasi pidana. Remaja pengakses internet sangat dimungkinkan secara tidak sengaja tersesat masuk ke situs-situs ”berbahaya”. Mereka mudah mendapatkan atau menemukan (sengaja maupun tidak) materi-materi yang tidak layak diakses, misalnya pornografi, kebencian, rasisme, kejahatan, ataupun hal-hal lain yang sifatnya menghasut untuk melakukan aktivitas negatif-ilegal.

Internet juga mengundang bahaya karena giat menjajakan kekerasan. Situs-situs yang bernuansa gelap, sadis dan berhubungan dengan penyimpangan seksual betebaran di dunia maya. Kekerasan yang ditampilkan bersifat simbolik sampai fisik, seperti teks dan gambar dari skala no blood (kekerasan tanpa darah) hingga ke penyiksaan menuju kematian. Banyak homepage khusus penyedia tayangan video yang menampilkan adegan kekerasan dan pembunuhan menyimpang. Foto-foto yang berisi kematian dan pembunuhan akibat perang juga banyak dicari orang lewat internet. Di Indonesia misalnya, saat terjadi peristiwa kerusuhan di Sampit atau rentetan tragedi DOM Aceh, terdapat situs-situs yang khusus memperlihatkan foto kepala terpenggal, usus manusia terburai, tubuh membusuk dikerubungi lalat dan foto-foto mengerikan lainnya.

Selain kekerasan, bahaya yang paling sering dikahwatirkan adalah soal pornografi. Jumlah pengakses konten pornografi online di internet dari hari ke hari semakin meningkat. Parahnya, ini terjadi di kalangan anak dan remaja. Setidaknya demikian hasil studi yang terungkap di Amerika Serikat. Penelitian yang dilakukan University of New Hampshire untuk National Center for Missing and Exploited Children membandingkan jumlah dan perilaku pengakses pornografi online pada tahun 1999-2000 dengan jumlah dan perilaku pengakses pornografi online 2005. Menurut hasil studi, jumlah pengakses pornografi online di kalangan anak remaja berusia 10-17 tahun meningkat 25% dari sebelumnya (Ardhi, http: //detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2006/bulan/12/tgl/06/time/142552/idnews/716867/idkanal/398)). Kenaikan tersebut terjadi karena taktik bisnis pornografi makin agresif. Makin canggihnya performa kecepatan komputer dan koneksi Internet dalam menangani gambar juga salah satu faktor penyebab peningkatan angka tersebut.

Masalah pengintimidasian seksual di internet juga terbukti makin meningkat. Tercatat 1 dari 10 orang mengalami pelecehan seksual secara online. Jumlah predator seksual yang mencoba mengeksploitasi anak-anak terus menanjak. Meski jumlah pengakses pornografi meningkat, menurut studi University of New Hampshire tersebut, kewaspadaan remaja AS terhadap ancaman internet makin baik. Terbukti mereka kini lebih berhati-hati berinternet. Mereka juga lebih jarang mengunjungi chatroom atau ngobrol dengan orang yang tidak dikenal (Ardhi, Ibid).

Situs-situs jaringan pertemanan seperti Friendster, Facebook,  dan Myspace yang notabene sebagian besar penggunanya adalah anak muda, belakangan berkembang menjadi sarana kejahatan seksual yang melibatkan anak di bawah umur. Menurut Myspace, saat ini diperkirakan ada sekitar 550.000 profil yang telah melakukan registrasi yang disinyalir pelaku kejahatan seksual di Amerika. Sudah banyak pelaku memangsa korban dengan awalnya mengaku ingin menjadi teman mereka. Yang menjadi korban biasanya anak berusia belasan tahun. Tragisnya, ini tidak hanya menimpa anak perempuan saja, bocah lelaki juga dijadikan sasaran untuk melampiaskan penyimpangan hasrat seksual pelaku .

Gejala yang sama juga terjadi di Asia. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh ABAC Poll Research Centre dari Assumption University – Thailand terhadap  1.303 responden remaja menunjukkan, lebih dari 10 persen pernah berhubungan seksual dengan orang-orang yang mereka temui di Internet. Survei juga menyimpulkan bahwa dua dari tiga orang responden mengaku selalu mengakses situs-situs porno. Demikian hasil penelitian yang dilakukan kepada anak muda berusia 15 hingga 24 tahun, yang dilansir monstersandcritics.com dan dikutip detikINET, Senin (12/2/2007). Penelitian yang dilakukan pada awal Februari ini juga mengungkapkan, 30 persen responden telah berkencan dengan orang yang mereka kenal di Internet. Tak hanya itu, 80 persen responden juga mengaku melakukan chatting dengan orang-orang asing di Internet. Hasil dari jajak pendapat penelitian ini juga menemukan bahwa 11,5 persen responden mengaku memiliki hubungan yang menjurus pada perilaku seksual dengan orang yang mereka kenal di internet. Persentase tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya mencapai 8,9 persen (Yusuf, 2007: 178).

Di antara berbagai pilihan dan kemungkinan dampak yang ditimbulkan sebagaimana dipaparkan di atas, kehidupan masyarakat modern tidak bisa dipisahkan dari kehadiran internet. Disadari atau tidak, internet telah menciptakan sebuah bentuk ketergantungan bagi penggunanya. Sekadar ilustrasi, hampir setengah dari pengguna internet di Amerika Serikat (AS) mengaku bergantung pada internet saat harus membuat keputusan penting dalam hidupnya. Contohnya, mencari perguruan tinggi untuk anggota keluarga mereka atau mencari tempat tinggal baru untuk menetap. Demikian hasil studi yang dilakukan sebuah grup nirlaba, Pew Internet and American Life Project. Survei ini digelar tahun 2006 dengan sampel 2.201 orang dewasa. Survei menunjukkan bahwa peran internet kian penting bagi kehidupan sehari-hari. Kurang lebih 45 persen pemakai internet, atau kira-kira 60 juta orang Amerika, mengatakan internet membantu mereka dalam membuat keputusan besar atau dalam menghadapi momen penting dalam hidup mereka selama dua tahun belakangan ini (Yusuf, 2007: 180).

sumber : kumpulan beberapa artikel dan situs blog internet


Komentar :

Nama :
E-mail :
Web :
Komentar :
Masukkan kode pada gambar


    [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • Silabus dan RPP Bimbingan Konseling berkarakter
    27-01-2012 18:06:47  (777)
  • Buku Pribadi Siswa untuk BK
    21-02-2012 23:13:55  (320)
  • Pembuatan Alat Peraga Bimbingan Konseling
    14-03-2012 09:09:01  (223)
  • Tes Karakter Orang
    18-02-2012 04:20:47  (217)
  • Saatnya Mengukur Sendiri Tingkat IQ Anda
    12-02-2012 12:43:11  (209)

Pengunjung

    1380658

PENCARIAN ARTIKEL


SILAKAN KETIK KATA KUNCI DIBAWAH INI

SELAMAT DATANG

Website ini dipersiapkan sebagai wadah saling berbagi keilmuan dan media pembelajaran dari berbagai sudut pandang Psikologi, Manajemen Sekolah, Perkembangan Dunia Pendidikan, Agama, Sosial, Budaya, dan Politik di Indonesia. Untuk Pengembangan website lebih lanjut sangat diharapkan masukan, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pengunjung tercinta. Semoga artikel yang ada di dalam website dapat bermanfaat untuk kita semua, amin.

Motto Hidup

Torehkan Prasasti Hidup Dalam Wujud Keilmuan

Blog Guru Indonesia

Bookmark and Share

HUBUNGI PENULIS

Bagi pengunjung yang mencari informasi lebih jauh terkait artikel di website ini silakan hubungi kami di 081913042100 atau email ndorodemang@kemenag.go.id Trima Kasih.

Hadir di Facebook

Link Partner