WEB KAJIAN PSIKOLOGI DAN PENDIDIKAN


MENGUPAS TUNTAS KEILMUAN PSIKOLOGI
Kumpulan Opini Guru Dalam Uji Publik Kurikulum 2013 bagian 1

  • Itsar Bolo Rangka, M.Pd., Kons., Sulawesi tenggara, 3 Dec 2012
    Yth. Tim Perumus Draft Kurikulum 2013 Perubahan kurikulum sebagai upaya perbaikan kualitas pendidikan yang memiliki relevansi dengan perubahan zaman yang cepat merupakan hal yang wajar agar generasi muda kita lebih kompetitif. Namun dalam draft sosialisasi kurikulum 2013 ada masukan utama yaitu mohon sekiranya diperjelas posisi bidang kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK) di dalam kurikulum 2013 sebab dalam beberapa slide yang saya jumpai bahwa tidak ada komponen yang menyebutkan istilah bimbingan dan konseling yang dilaksanakan pada tiap-tiap satuan pendidikan dasar-menengah. Beberapa keganjilan terjadi, apabila tujuan perubahan kurikulum 2013 untuk menciptakan keseimbangan antara domain kognisi, afeksi dan psikomotor hanya melalui mata pelajaran tanpa diimbangi dengan pendampingan secara psikologis melalui pelayanan BK, maka niscaya semua akan sia-sia. Kita hanya menciptakan para generasi yang cerdas secara intelektual saja, namun miskin perasaan empati, moral dan tangguh upaya menyelesaikan masalah yang ada di dalam kehidupan yang lebih luas. Saya hanya berharap perumusan kurikulum tidak menghilangkan substansi dari standar isi pendidikan (Permendiknas No. 22/2006). Alih-alih memperbaiki kualitas pembelajaran namun yang terjadi bisa saja sebaliknya sebab ada beberapa elemen krusial yang dilebur menjadi satu kesatuan pada komponen tertentu, yang sebenarnya memiliki domain yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Contohnya kegiatan pengembangan diri yang diintegrasikan ke dalam mata pelajaran. Hal ini sangat kontraproduktif menurut saya. Sebab pengembangan diri menurut standar isi pendidikan yang di dalamnya terbagi atas 2 komponen yaitu pelayanan konseling (BK) dan kegiatan ekstrakurikuler. Khusus untuk kegiatan pelayanan konseling (BK) kegiatannya dilaksanakan oleh guru BK/Konselor sekolah yang bertujuan menyediakan sarana bantuan melalui proses pelayanan konseling bagi peserta didik untuk mencapai bentuk kehidupan yang efektif sehari-hari, baik dalam upayanya menimba ilmu di satuan pendidikan atau menjalani kehidupan yang lebih luas. Tak pelak lagi proses untuk mencapai prestasi (akademik, dll) akan sangat terganggu jika siswa (utamanya di sekolah) kehidupan sehari-harinya mengalami masalah dan tidak ditangani secara serius oleh petugas yang berwenang (guru BK/konselor sekolah). Persoalannya adalah apabila kegiatan pengembangan diri (termasuk BK) diintegrasikan ke dalam mata pelajaran maka hal ini akan tidak efektif dijalankan di sekolah. Sebab pelayanan BK tidak dapat penangannya diberikan / diserahkan kepada guru mata pelajaran, sebab kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling oleh guru BK/konselor merupakan kegiatan yang khas dan unik, yang secara objek praktik spesifik penyajiannya berbeda dengan mata pelajaran yang disajikan oleh guru mata pelajaran. Fakta lain yang akan mengemuka yaitu apabila status kegiatan pengembangan diri (dalam hal ini pelayanan konseling) tidak ditegasakan posisinya dalam kurikulum 2013 itu yang membahayakan, sebab apabila stakeholder berbicara kurikulum maka bisa saja ia tergiring untuk memiliki pemahaman bahwa kegiatan pengembangan diri melalui pelayanan Bimbingan dan konseling tidak ada disitu. Padahal sesungguhnya tidak demikian adanya. Kegiatan pelayanan BK sama pentingnya dengan mata pelajaran/muatan lokal sehingga posisi dan peranannya perlu secara tegas diuraikan dalam kurikulum final 2013.
  • Eko Wahyono, Jawa tengah, 3 Dec 2012
    Mudah-mudahan Kurikulum 2013 tidak kebanyakan teori, tetapi lebih mengarah kepada penguasaan praktikum berbasis teknologi, informatika, dan komunikasi. Semoga. Perlu banyak waktu untuk diklat pada guru-guru dalam penyusunan Kurikulum 2013.
  • dini rakhmawati, Jawa barat, 3 Dec 2012
    Mohon diperjelas posisi bidang kegiatan pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK) di dalam kurikulum 2013 sebab dalam beberapa slide yang saya jumpai tidak ada komponen yang menyebutkan istilah bimbingan dan konseling yang dilaksanakan pada tiap-tiap satuan pendidikan. Saya sangat setuju dengan konsep SKL tapi saya rasa mustahil jika itu tercapai tanpa keberadaan bimbingan dan konseling. Saran: mungkin perlu dipertimbangkan model kolaborasi yang kokoh antara guru BK dengan guru mata pelajaran.
  • zulkarnain, Bengkulu, 3 Dec 2012
    bagusnya jangan kurikulum 2013, sesuaikan dengan apa yang dicanangkan.
  • wisnu lintang, Jawa tengah, 3 Dec 2012
    Saya seorang guru TIK SMP, Pak, saya senang dengan adanya kurikulum 2013 ini, kami hanya mohon kejelasan nasib kami guru-guru TIK SMP, juga kesempatan sertifikasi sebagaimana guru-guru mapel yang lain, sekian Bapak Menteri yang terhormat, terima kasih...
  • AKHMAD SUDRAJAT, Jawa barat, 3 Dec 2012
    Berkaitan dengan Posisi Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013, terdapat beberapa hal yang ingin saya sampaikan: Belum tergambarkannya secara jelas bagaimana posisi layanan Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013, telah menimbulkan keresahan tersendiri di kalangan guru BK/Konselor. Hal ini terungkap dari diskusi yang berkembang dalam beberapa komunitas BK di jejaring sosial FaceBook, diantaranya di Komunitas ABKIN dan IBKS. Intinya, mereka mempertanyakan dimana dan mau kemana BK dalam Kurikulum 2013. Kendati dalam Draft Pengembangan Kurikulum 2013 tidak dikemukakan secara eksplisit, saya masih bisa berprasangka positif. Dalam arti, saya yakin bahwa pemerintah masih memiliki kearifan untuk melihat bimbingan dan konseling sebagai bagian integral dari sistem pendidikan kita, yang telah diperjuangkan sejak tahun 60-an. Meski dalam perjalanannya dilalui secara tertatih-tatih, hingga sejauh ini Bimbingan dan Konseling telah mampu menunjukkan berbagai kemajuan yang berarti, diantaranya yang paling mutakhir yaitu dengan didirikannya Program Pendidikan Profesi Konselor di Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Semarang, dan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Melalui pendidikan profesi konselor ini diharapkan dapat melahirkan tenaga-tenaga profesional dalam layanan Bimbingan dan Konseling sehingga pada gilirannya mereka dapat lebih diandalkan lagi dalam kontribusinya terhadap upaya peningkatan mutu pendidikan dan semakin mewarnai peradaban kehidupan di negeri ini. Selain itu, belakangan ini sedang berkembang pemikiran tentang perluasan wilayah layanan, yang semula hanya bergerak dalam lingkup persekolahan, kini sudah mulai dipikirkan dan diterapkan dalam jangkauan wilayah garapan yang lebih luas, di luar setting persekolahan. Sungguh ini adalah sebuah sebuah kemajuan besar bagi perjalanan sebuah profesi dan tentu akan menjadi kemunduran besar (set back) dan ahistoris, apabila Bimbingan dan Konseling tiba-tiba harus terhempas dalam Kurikulum 2013. Kemunduran ini bukan hanya terjadi pada Bimbingan dan Konseling itu semata tetapi justru kemunduran sebuah peradaban di negeri ini. Meminjam pemikiran Prof. Prayitno (2003) tentang periodesasi perjalanan Bimbingan dan Konseling di Indonesia, saya melihat bahwa hingga diberlakukanya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), perjalanan Bimbingan dan Konseling telah memasuki tahapan TINGGAL LANDAS. Jika saya boleh mengelaborasi pemikiran Prof. Prayitno tersebut, maka tidaklah berlebihan jika saya mengatakan bahwa pada Kurikulum 2013 seharusnya Bimbingan dan Konseling sudah dapat memasuki tahapan KEMAPANAN (sebuah tahapan yang tampaknya belum sempat disebutkan oleh Prof. Prayitno,- maaf kalau saya keliru). Dalam tahapan KEMAPANAN ini, Bimbingan dan Konseling seyogyanya dapat hadir sebagai sebuah profesi yang bermartabat, sejajar dengan profesi lainnya yang telah mendapat pengakuan luas dari masyarakat. Tidak dipungkiri, dalam memasuki tahapan KEMAPANAN ini masih banyak persoalan dan tantangan yang masih menghadang, baik yang berkaitan dengan berbagai isu internal, seperti: keterbatasan tenaga Guru BK/konselor profesional, rendahnya kinerja Guru BK, rendahnya dukungan manajemen, dsb, maupun berbagai isu eksternal, sebagaimana disebutkan dalam Alasan Pengembangan Kurikulum 2013. Memasuki tahapan KEMAPANAN dibutuhkan komitmen dan kerja holistik dari semua pihak yang terkait dengan layanan Bimbingan Konseling, khususnya dari 3 (tiga) pilar utama: yaitu: (a) pakar BK, yang terus berusaha mengembangkan keilmuan BK yang dapat ditransformasikan ke dalam praktik, (b) decision maker dari semua tingkatan manajemen (makro, messo, dan mikro, mulai dari kemendikbud, kepala dinas hingga kepala sekolah) untuk senantiasa memfasilitasi dan memberikan dukungan sistemik bagi tumbuh-kembangnya layanan bimbingan dan konseling sebagai sebuah profesi yang bermartabat, dan (3) praktisi, guru BK/konselor yang terus berusaha mengembangkan diri dan kompetensinya dalam rangka pemberian layanan profesionalnya kepada semua pihak yang dilayaninya. Ketiga pilar ini harus berjalan seirama dan tidak bisa mengandalkan pada salah satu pihak saja. Kurikulum 2013 sebagai salah bentuk kebijakan dari decision maker tingkat makro sudah seharusnya mampu mewadahi kepentingan guna terwujudnya tahapan KEMAPANAN ini. Dengan demikian, tampak terang bahwa tidak seharusnya Bimbingan dan Konseling menjadi termarjinalkan dalam Kurikulum 2013 dan berbagai kebijakan pendidikan lainnya. Jika ditanya bagaimana formulasi yang tepat untuk memposisikan Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013? Kita serahkan saja kepada ABKIN sebagai organisasi yang menaungi kita. Disana tersedia para ahli dari berbagai sentra bimbingan dan konseling di Indonesia (Padang, Bandung, Malang, Yogyakarta, Semarang, dsb.) dan untuk kali ini kita berharap semoga mereka dapat bersepakat untuk menentukan formulasi terbaik yang bisa diberikan untuk negeri ini. Kurikulum 2013, bukanlah persoalan Bandung, Padang, Semarang, dan lainnya, bukan pula persoalan ego-ego individual, si A, si B atau lainnya, tetapi ini adalah persoalan kolektif perjalanan sebuah bangsa. Mari kita ambil Kurikulum 2013 sebagai momentum untuk semakin mengokohkan Bimbingan dan Konseling sebagai sebuah profesi yang mapan! Begitulah gagasan sederhana dari saya terkait dengan Posisi Bimbingan dan Konseling dalam Kurikulum 2013. Semoga bermanfaat. http://wp.me/p48oF-6ev
  • v. carlusa, Dki jakarta, 3 Dec 2012
    Saya bingung dengan kurikulum sekolah saat ini yg menurut hemat saya lebih mementingkan pelajaran teori ketimbang pembentukan ahlak dan perilaku. hal itu terbukti dari banyaknya tawuran dan kenakalan kenakalan remaja yg notabene masih sebagai pelajar (SLTP atau SLTA). Saya selalu mengikuti perkembangan setiap mata pelajaran anak kandung saya mulai dari kelas 1 SD sampai SLTP. Mata pelajarannya saya rasakan sangat berat untuk diajarkan dikelasnya. Saya bandingkan dengan waktu saya SMP dulu, Pelajaran anak saya yang masih SD sudah diajarkan seperti saya SMP. dan banyak sekali pelajaran-pelajaran yang mhs sangat memberatkan dan belum perlu diajarkan kepada para pelajar di kelas tertentu, seperti Muatan Lokal (PLKJ, PKn, Komputer, Bahasa Inggris) kalaupun pelajaran-pelajaran dimaksud mau diajarkan, mhs dimulai saja pada kelas 4 atau 5 SD saja dan seterusnya, sedangkan untuk kelas 1 sampai 3 SD diutamakan pada perkembangan ahlak dan budipekerti. Para pendidik khususnya guru juga harus mempunyai nalar dan logika yang memadai jika memberikan tugas kepada murid, apa benar anak SD sudah harus membuat paper dengan tema yang macam-macam yang harus diketik komputer, belum lagi tugas-tugas atau PR pelajaran lainnya yang pada akhirnya itu bukan merupakan hasil karya murid tetapi hasil kerjaan orang tuanya atau kakak-kakaknya. Dibanding saya sekolah dulu, anak sekarang memang pintar-pintar dan banyak pengetahuannya. tetapi hal tsb menurut hemat saya sebagian besar didapat dari hasil mereka mengikuti bimbel diluar pelajaran sekolah. Coba bandingkan. kalau para pelajar sekarang tidak ikut Bimbel di luar sekolahnya, akan ketinggalan dibanding dengan pelajar yang ikut bimbel diluar. Bisa dihitung dgn jari anak-anak yang tidak ikut bimbel diluar lebih berhasil menguasai pelajarannya dibanding dengan yg mengikuti bimbel. Belum lagi kalau sudah menghadapi UAN, kalau kita tidak mengikutkan anak kita pada Bimbel kok rasanya kurang mantap. itu karena para ortu tidak yakin 100 % bahwa materi pelajaran yang didapat dari sekolah sudah cukup untuk menghadapi UAN. Satu hal lagi tentang penilaian kelulusan/ ketuntasan belajar. Kalau jaman saya dulu, nilai 60 saja sudah naik kelas, sedangkan saat ini minimal ketuntasan suatu pelajaran rata-rata minimal 75 atau 80 untuk setiap pelajaran (di sekolah RSBI), apabila siswa mendapatkan nilai 75 sedangkan standar nilai minimal nya 80, maka siswa tersebut dianggap belum tuntas dalam pelajarannya dan harus remedial di pelajaran tersebut. pertanyaannya, apa iya hal tsb sudah tepat ? tolong diingat kemampuan setiap anak itu tidak sama. standar nilai itu juga tidak bisa jadi patokan. Nilai 75 di satu sekolah bisa jadi sama nilainya dengan 80 atau 90 disekolah yang lain, begitu pula sebaliknya mungkin sama dgn 50 atau 60 disekolah yang lainnya. jadi masalah nilai menurut saya tidak usah terlalu tinggi menetapkan syarat kelulusan/ketuntasan pelajaran. tolong dievaluasi lagi berapa nilai yang pas/tepat untuk memenuhi syarat ketuntasan belajar. Kalau nilai 60 pada UAN seorang pelajar bisa lulus, mengapa tidak diputuskan saja nilai 60 tsb jadi nilai minimal untuk menentukan ketuntasan nilai pelajaran di setiap jenjang sekolah untuk setiap mata pelajaran. Tolong juga dicari kurikulum yang pas atau mendekati pas untuk para pelajar kita (mulai SD s/d SLTA), bukan uji coba sifatnya. Semoga hal ini dapat menjadi masukan para pengambil keputusan.
  • SLAMET YULIONO, Jawa timur, 3 Dec 2012
    Masukan yang diberikan dari guru jenjang yang sederajat sebaiknya lebih diprioritaskan karena mereka-mereka inilah pelaku utama di lapangan. Bila perlu catat dan ikutkan dalam forum terbatas untuk pembahasan kurikulum ini. Saya yakin mereka orang yang peduli dan bisa memberikan masukan yang realistis.
  • ahmad sofyan, Dki jakarta, 3 Dec 2012
    Pemisahan IPA-IPS sebaiknya mulai kelas IV - VI SD, karena kompetensi yang ditagihkan kpd siswa cukup berat, jika hanya diberikan di kelas V -VI saja tidak cukup waktu untuk penguasaan kompetensi tersebut.
  • NURBOWO BUDI UTOMO, SPd, Di. yogyakarta, 3 Dec 2012
    kalau melihat pengantarnya kurikulum ini disusun dengan melibatkan berbagai ahli, ada tidak ahli dari BIMBINGAN DAN KONSELING, Kalau melihat draft nya mungkin tidak melibatkan ahli dari BIMBINGAN KONSELING, mudah-mudahan segera ada perbaikan untuk memberi ruang kerja bagi Guru BK, mungkin para ahli penyusun kurikulum ini belum sepenuhnya memahami unsurr PTSDL, mereka baru memahami unsur KBM sehingga belum memahami substansi tugas guru BK....... masih ada waktu untuk meninjau ulang dan mengambil langkah bijaksana, sehingga memberikan ruang yang adfil bagi setiap guru untuk mencerdaskan anak-anak di negeri ini... seperti lagunya AHMAD ALBAR .....FIKIRKAN DAN RENUNGKAN
  • Edi Hasibuan, Sumatera barat, 3 Dec 2012
    Bapak Menteri yang terhormat. Saya heran melihat perubahan kurikulum yang tidak menyentuh masalah sebenarnya. Yang menjadi masalah selama ini: 1. bukan jumlah mata pelajaran, tetapi isi daripada bukunya. pelajaran sekarang terlalu berat, materi yang diajarkan di SMP sekarang sudah diajarkan di SD. 2. Banyaknya sekolah yang bisnis LKS sehingga membuat siswa penuh dengan tugas, tidak ada lagi waktu bermain 3. Umumnya sekolah mewajibkan siswanya belajar tambahan (terutama kelas 9/12) sampai jam 16.00/17.00. Bisa dibayangkan siswa smp/sma masuk jam 07.00 sampe jam 17.00 (10 jam). Siswa tentu tidak maksimal menangkap pelajaran. Jam kerja saja cuma 8 jam, sementara siswa kelas 3 smp sudah dituntut 10 jam. bisa dibayangkan seorang anak smp bangun jam 5.30 pagi, berangkat kesekolah jam 6.00 pulang sekolah jam 17.00 sampe di rumah jam 18.00 (12 jam 30 menit) LUAR BIASA, jangan-jangan Bapak-Bapak Kemendiknas juga tidak sanggup. Wajar anak-anak sekarang tambah bodoh. Ini masalah pokok sebenarnya, Inilah yang paling perlu dibenahi. Trims
  • AMINUDIN ISHAR , Kepulauan riau, 3 Dec 2012
    Yth. Tim Perumus Draft Kurikulum 2013 Perubahan kurikulum sebagai upaya perbaikan kualitas pendidikan bangsa indonesia.dari indonesia mardeka telah banyak perobahan Kurikulum : CBSA ( Catat Buku Sampai Habis ), KBK ( Kurikulum Banyak Kerja ) ,KTSP ( Kurikulum Tidak Siap Pakai ) dan sekarang Kurikulum 2013 entah apa lagi namanya.Makin banyaknya perobahan kurikulum bukan semakin maju malahan semakin merosot dunia pendidikan karena guru harus belajar lagi kurikulum baru dan banyak pemborosan uang Rakyat.mungkin kita selama ini terlena dan lupa dengan tujuan pendidikan yaitu menciptakan manusia seutuhnya,namun sekarang sangat ironis didalam kurikulum ada muatan lokal Tauran dan Murid kurang ajar sama guru.kita selalu bermimpi dan mencoba tapi sayang Para pemimpin kita hanya mempertahankan argumen dan Ego di atas meja dan tidak pernah melihat pendidikan dipelosok perbatasan,terpencil,terluar dan tertinggal sedih.sekarang mungkin kita bangga dengan kelulusan UN anak dengan nilai rata2 9,0 walaupun itu mencontek dan malu kalau anak dapat nilai 5,0 walaupun itu dengan jerih payah sendiri dari hasil sebuah kejujuran,cukup sedih sekali.apa yang kita buat dan kita robah hari ini semata2 mengajarkan generasi bangsa sebagai penipu dan pejabat yang Korupsi,sedih...sedih...,Guru sekarang bagaikan sebuah mesin atau robot yang diprogram untuk menciptakan hal yang bertolak belakang dengan keinginanya.Kurikulum yang kita ciptakan terlena dengan pendidikan Koknitif atau Kecerdasan Otak karena penentuan kelulusan ditentukan oleh Nilai UN bukan dari sekolah.untuk itu saya sebagi guru dan sebagai pendidik memohon Kepada Tim Perumus Kurikulum 2013,buatlah kurikulum yang bukan mengandalkan Kecerdasan Otak tapi buatlah kurikulum dengan Indikator Keberhasilan : 1.anak memiliki ahlak dan moral yang baik,2. Anak dapat berhitung dengan baik dan benar, 3. Anak mengenal,mencintai lingkungan dan alam sekitarnya, 4. anak mencintai NKRI dan menghargai perbedaan pendapat , 5. Anak memiliki keterampilan dan kecakapan agar berguna dimasyarat dan bangsa, 6. Anak dapat Mengerti bahasa Daerah sendiri,Bahasa Indonesia dan Bahasa Asing agar dapat memahami bangsa sendiri dan dunia luar dalam menyerap arus globalisasi, 6. Anak mencintai seni dan budaya daerah sebagai pencerminan jati diri bangsa dalam semboyan bhanika tunggal ika.Mata Pelajaranya : 1. Agama ( 6 Jam ), 2. Matematika (6 jam),3. IPA (6 jam),4. Pendidikan Pancasila dan Karakter Bangsa ( 4 Jam ),5. Pendidikan Keterampilan dan Kecakapan Hidup ( 6 Jam ),6. Bahasa indonesia ( 2 Jam ), 7. Bahasa Asing ( 2 Jam ), 8. Seni dan budaya bangsa ( 2 Jam ).itu usulan dari saya mudah-mudahan Tim perumus kurikulum tidak Egois untuk mempertahankan pendapat sendiri.untuk yang terakhir penentuan kelulusan kembalikan kepada pihak sekolah yang tau anak didiknya masing-masing,agar jadi generasi yang jujur dan bangga dengan jeripayah sendiri,bukan Mencontek masal seperti Penomena di UN sekarang ini.
  • Dairabi Kamil, Dki jakarta, 3 Dec 2012
    Revisi kurikulum secara berkala adalah sebuah keharusan. Tapi kalau 3 kali revisi dalam kurun waktu 9 tahun adalah sesuatu yang "luar biasa". Revisi yang kerap tersebut bisa jadi sebagai bentuk keseriusan dalam mencari format terbaik, tapi bisa juga menyiratkan adanya "trial and error" dalam usaha menemukan format tersebut. Perubahan kurikulum yang terlalu kerap bisa counterproductive. Menimbulkan kebingungan/ketidakpastian di kalangan guru dan siswa, menyebabkan disorientasi dalam pendidikan. Mudah2an Kurikulum 2013 tidak seperti itu. Dalam hierarki kebijakan kurikulum yang top-down guru berada di dasar piramid tapi tindakan mereka di kelas menentukan hasil implementasi sebuah kurikulum. Diperlukan waktu bagi guru untuk memahami dan menerima kurikulum baru, merubah mindset dan established practices mereka.Untuk ini perubahan kurikulum perlu dikomunikasikam dengan baik sehingga semua yang terlibat memiliki pemahaman yang sama terhadap perubahan tersebut. Kebanyakan orang sulit menerima perubahan walaupun perubahan itu untuk sesuatu yang lebih baik. Bisa jadi, mungkin masalahnya bukan intra-curricular, tapi extra-curricular. Diperlukan evaluasi yang comprehensive dan sistemik sebelum membuat keputusan perubahan kurikulum. Sampai bulan oktober 2012, 6 tahun setelah peluncurannya, masih ada Dinas Pendidikan di Kabupaten yang melaksanakan sosialisasi KTSP, padahal draft kurikulum baru telah siap.Sepertinya ada masalah komunikasi dan koordinasi. Kenapa ini bisa terjadi? Ada kecenderungan inovasi kurikulum bagus pada tahap awalnya saja, yaitu pada saat konseptualisasi dan pengembangan karena relative bersifat teoritis. Namun, lemah pada saat implementasi, koordinasi, dan monitoring di mana permasalahan banyak terjadi. Perubahan kurikulum seyogyanya bukan pada dokumen kurikulum saja. Tapi juga perubahan pada aspek-aspek lain yang berkaitan. Yang terjadi selama ini perubahan dokumen kurikulum tidak diikuti perubahan yang berati pada aspek-aspek lain tersebut.Namun, ketika outputnya tidak maskimal orang cendrung merevisi kurikulumnya. Mungkin karena itu yang paling mudah diotak-atik. Mengubah KTSP yang desentralistik kepada Kurikulum 2013 yang sentralistik mungkin suatu langkah yang tepat, karena mengharuskan sekolah/guru mengembangkan kurikulum sendiri sebagaimana diharuskan KTSP adalah sesuatu yang logis tapi tapi tidak realistis. Para profesor kurikulum saja yang fokus membuat kurikulum memerlukan waktu bertahun-tahun untuk merancang sebuah kurikulum apalagi guru-guru kita yang bukan expert dan mengerjakannya secara sambilan di sela-sela tugas-tugas keguruan mereka sehari-hari yang sudah menyita banyak waktu mereka. Terakhir, sebagaimana diberitakan bahwa kurikulum 2013 ini mengadaptasi model kurikulum yang diterapkan di negara maju seperti di Finlandia dsb. Perlu kajian feasibility yang lebih dalam untuk memastikan bahwa model tersebut juga feasible di negara kita.Jadi, tidak cukup karena model tersebut diklaim berhasil di negara tsb, apalagi hanya karena tim penyusunnya adalah lulusan perguruan tinggi negara-negara maju tsb. Semoga nasib KTSP tidak terulang pada Kurikulum 2013
  • Safaruddin, Sulawesi selatan, 3 Dec 2012
    Ass. Kalau melihat perkembangan kurikulum di Indonesia luar biasa, namun tidak sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, buktinya indonesia masih dibawah dengan negara lain, menurut saya masalah tersebut bukan semata-mata karena kurikulumnya, tetapi yang harus menjadi perhatian sebenarnya bukan utama pada kurikulumnya tetapi yang harus di perbaiki SDM-nya (Guru), sebab bagaimanapun bagusnya kurikulm kalau yang mau menjalankan kurang cerdas, ini salah satu masalah khusunya di daerah terpencil, termasuk kami ini, menganggap bahwa belum di kuasai satu karena kurangnya sumber informasi dan sumber belajar muncul lagi yang baru, keadaan ini akan berdampak pd peningkatan kualitas siswa khusunya yang berada di daerah terpencil, ibaratnya kalau orang tua belum menguasai cara mendidik bagaimana bisa anaknya terdidik.
  • Prof. Dr. Prayitno, M.Sc, Ed, Sumatera barat, 3 Dec 2012
    Yth. Tim Penyusun Kurikulum 2013. Dengan hormat, saya sebagai Dewan Pembina ABKIN (Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia) dan IKI (Ikatan Konselor Indonesia) dengan ini menyampaikan hal-hal sebagai berikut. Penyelenggaraan pendidikan di Indonesia berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, dan secara lebih operasional UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Dalam UU ini di sebutkan secara jelas dan eksplisit kualifikasi pendidik, yaitu guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur dan fasilitator (Pasal 1 Butir 6 UU No.20/2003). Pada satuan pendidikan dasar dan menengah (sekolah/ madrasah) berkinerja pendidik yang disebut guru, guru BK atau konselor (sesuai dengan penyebutan yang ada secara eksplisit pada PP No. 74/ 2008 tentang Guru). Yang dimaksud guru BK di sini adalah pendidik yang berstatus guru yang ditugaskan menyelenggarakan pelayanan Bimbingan dan Konseling (BK), sedangkan Konselor adalah pendidik yang sudah menyandang gelar profesi Konselor, yaitu gelar yang diperoleh setamat dari Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang selama ini telah terselenggara di sejumlah LPTK. Dalam hal ini, di sejumlah sekolah/ madrasah di Indonesia telah bertugas pendidik yang bergelar Konselor. Dengan demikian kurikulum yang dikembangkan perlu mengefektifkan tenaga pendidik tersebut di sekolah/ madrasah (yaitu guru, guru BK atau Konselor). Hal ini telah dengan sangat bijak dikemukakan pada PP No. 74/ 2008 tentang Guru yang sekaligus mencantumkan keberadaan guru, guru BK atau Konselor. Guru BK secara eksplisit dicantumkan karena kondisi sekarang memang jumlah Konselor (tamatan program PPK) belum memadai, sehingga untuk penyelenggara BK masih kebanyakan ditugaskan kepada guru (yang selanjutnya disebut guru BK). Keberadaan Konselor disebutkan secara eksplisit dalam PP tersebut mengacu kepada kondisi ke depan sebagaimana diamanatkan oleh UU No. 20/ 2003 yaitu bahwa pendidik profesional penyelenggara pelayanan BK adalah Konselor. Sesuai dengan landasan operasional dan amanat UU serta PP di atas jelaslah bahwa pelayanan BK seharusnyalah diselenggarakan di sekolah/ madrasah seiring dengan diberlakukannya kurikulum pada satuan pendidikan tersebut. Dalam hal ini penyelenggara BK untuk sementara ini sebagian terbesar oleh guru BK, sedangkan ke depan oleh Konselor yang mana sebagian dari mereka memang telah bertugas pada satuan-satuan pendidikan yang dimaksud. Dalam kaitannya dengan pengembangan Kurikulum 2013 yang direncanakan akan segera diberlakukan, pelayanan BK yang dimaksud akan memperkuat kurikulum baru itu; oleh karenanya keberadaan pelayanan BK tersebut perlu mendapat tempat dan arahan operasional yang eksplisit jelas dan terukur. Hal ini semua diperlukan untuk menyukseskan kurikulum baru yang dimaksud dalam pengembangan potensi peserta didik secara optimal, sesuai dengan fokus pengembangan upaya pendidikan yaitu dikuasainya oleh peserta didik kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia dan keterampilan yang berguna bagi peserta didik, masyarakat, bangsa dan Negara (Pasal 1 Butir 1 UU No. 20/2003) Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
  • safrizal, Nanggroe aceh darussalam, 3 Dec 2012
    assalamua'alaikum,, saya melihat dari kurikulum baru ini lumayan bagus,, tapi masih banyk juga kekurangan, sekarang yang di gembar gemborkan pendidikan berkarekter. bagaimana membentuk siswa berkarakter kalw peneilaiannnya menggunakan kuantitatif artinya menggunakan nilai UAN,,, sedangkan karakter adalh sesuatu yang bernilai kualitatif dan abstrak,, semenjak ada uan kami kami guru merasa kurang di hormati oleh siswa,, siswa kurng menyegani guru, karna kelulusan mereka bukan pada pemilaian guru tapi NILAI UAN, yang sudah menjadi rahasia "umum",,, karakter siswa itu bukan 100% sekolah yang bentuk tapi hampir sebagian besar di bentuk oleh media baik elektronik maupun cetak,,, merekalah (MEDIA) yang harus di karakterkan dulu baru siswa ,, sebaiknya... ataupun di buat peraturan bagi pelajar dalm menggunakan media tersebut.... jangan kurikulum yang di gedokk selaluuu,,, ingat bagaimana nasip guru fasilitas sekolah,,, jangn membuat hayalan tinggi tampa melihat kondisi dan situasi,, sekali kali para pengambil kebijakan seharusnya melihat kondidi pendidikan di daerah tertinggal,, jangankan internet gedung sekolah saja pada bocorrrr,,, apalagi berbasis TIK yang harus di perhatikan pertama guru, karana guru ujung tombak, guru adalah mesin cetak generasi bangsa,, buat pemetaan guru guduluu selanjutnya sekolah fasilitas dan yang paling penting adalah media baik eletronik maupun cetakk buat undang undang bagi siswa tentang media
  • Hendra Wadi, Sumatera selatan, 3 Dec 2012
    Aslm, Yth tim perumus kurikulum 2013 saya setuju dengan rancangan ini. Mudah-mudahan kualitas pendidikan kita menjadi lebih baik. Tetapi tolong dipikirkan bagi sekolah yang tidak mempunyai Lab. Bahasa, jika banyak siswa memilih peminatan bahasa. Karena dalam rancangan kurikulum ini, setiap peserta didik boleh memilih salah satu peminatan (matematika dan sains, sosial, atau bahasa) sesuai dengan pendidikan lanjutan yang akan dimasuki. Trims.
  • tutik rizki, Jawa tengah, 3 Dec 2012
    Bapak menteri yang terhormat, sebagai pendidik saya menyambut baik perubahan kurikulum baru ini agar ke depan pendidikan lebih baik, menyikapi mapel TIK yang di integrasikan ke semua mapel menurut sy memang mempunyai tujuan yang baik sekali namun mohon di cek ke lapangan terutama dilingkungan pedesaan berapa persenkah guru-guru yang sudah menguasai TIK?, mohonjuga dibedakan penggunaan TIK dalam pembelajaran itu lebih ke kompetensi guru sedangkan mapel TIK untuk siswa, kalaupun mau dirubah......mungkin materi mapel TIK jangan terlalu teoritis tetapi berbanyak praktikum karena minat anak didik terhadap mapel TIK cukup tinggi, mohon kejelasan juga akan di kemanakan kami guru-guru TIK SMP trmksh.
  • erna yuli astuti, Jawa tengah, 3 Dec 2012
    Yth. Bpk Menteri M.Nuh dan Tim Penyusun Kurikulum 2013. Apabila memang bahasa Inggris jadi di hapus dari kurikulum SD, tentu memerlukan kerja keras guru - guru di SMP untuk mengajar muridnya karena mereka harus mengajar dari dasar. Apkah ini bukan langkah mundur bagi pendidikan di negara ini. Hal ini akan sangat terasa apabila pelajar memasuki jenjang SMP. Guru bahasa Inggris SMP harus mulai memperkenalkan kosa kata. Ini tentu membuat pelajar merasa belajar bahasa Inggris itu sulit, karena kosa kata belum bisa harus belajar grammar, tenses, bermacam - macam bentuk teks dan lain-lain. Anggapan yang keliru apabila kegagalan pembelajaran Bahasa Indonesia dikaitkan dan Bahasa Inggris dikambinghitamkan. Harusnya patut diselidiki dan digali mengapa banyak pelajar di negara ini tidak bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan mereka kok lebih tertarik dengan Bahasa Inggris. Saya yakin apabila metode pembelajaran Bahasa Indonesia tidak kaku dan monoton penyampaiannya maka saya yakin para pelajar akan menguasai dan bangga berbahasa Indonesia. Hendaknya diperlukan metode dan guru yang kreatif karena pada umumnya pembelajaran bahasa Inggris itu kreatif, inovatif, dan fun(melalui berbagai media seperti: game, kuis, nyanyian, dll). Selain itu tolong perhatikan juga nasib guru - guru bahasa Inggris yang sudah lama mengabdi untuk mencerdaskan anak bangsa. Apakah mereka akan dilengser begitu saja? Mohon Bapak Menteri Pikirkan itu!
  • Wendie Razif Soetikno, S.Si., MDM, Dki jakarta, 3 Dec 2012
    YANG PENTING HARUS JELAS DASAR HUKUM PERUBAHAN KURIKULUM INI DAN JANGAN MENYALAHKAN GURU : (http://edukasi.kompas.com/read/2012/11/29/11113348/Ini.Alasan.Dirombaknya.Kurikulum). MASUKAN DARI PARA PAKAR YANG DIMUAT DI KOMPAS, Jumat 12 Oktober 2012 halaman 33 MOHON DIPERHATIKAN, BEGITU JUGA MASUKAN DARI AIPI (Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia)
  • Indra herdiansyah,S.Pd, Jawa barat, 3 Dec 2012
    Yth.Bapak mentri dan tim penyusun Kurikulum 2013, mohon maaf yang sebesar-besarnya. saya selaku guru TIK merasa tercengang dengan perubahan kurikulum ini,bahkan saya merasa korban dari kurikulum ini, dikarenakan dengan wacana dihapuskan TIK di SMP. Pak mentri mohon untuk dikaji ulang tentang penghapusan TIK di SMP. karena menurut saya Penghapusan ini sangatlah tidak relepan,kita kan menginginkan bahwa pendidikan kita itu menuju era globalisasi, yang mana era itu adalah era dimana berbasis teknologi, masa menghadapi era tersebut TIK ga ada,bukan malah menghadapi tapi memundurkan 1 poin pembelajaran dasar menuju era tersebut. begitu pula TIK di integrasikan kesemua mata pelajaran apakah sudah di yakini itu akan maksimal,apakah bapak mentri dan tim perumus mengetahui benar di lapangan berapa persen kah guru-guru yang lain dapat menguasai Kompiuter, coba bapak liat kelapangan jangankan guru, saya yakini para pengawasnyapun belum mampu menguasai kompiuter dengan baik (mohon maaf). selanjutnya lagi pemaham bapak saya kira salah besar pak arti TIK sebagai Media pembelajaran dengan TIK sebagai pembelajaran. Bapak mentri yang terhormat,saya rasa wacana untuk menghilangkan TIK kaji ulang lah, dengan berbagai aspek pertimbangannya...bagaimana anak mau bisa belajar mandiri dalam TIK apabila tidak mengetahui dasar bekerjanya dalam belajar TIK...Dari SD masuk SMP anak di suruh mengerti TIK langsung tanpa di ajarkan apakah mau bisa pak, jangan melihat dari sudut pandang yang sempit pak melihatlah dari sudut pandang yang luas...siswa belum tentu paham semua masalah kompiuter,jangankan siswa gurunya aja masih gaptek pak...program presentasi aja ga ngerti,bagaimana mengoprasikannya... Mohon maaf pak apabila ada perkataan yang tidak baik...walaupun uji publik ini bukan untuk membatalkan rencana perubahan kurikulum.mohon dipahami.
  • H. Antonio banderas, M.Pd, Jawa timur, 3 Dec 2012
    Sekolah/Madrasah sekarang berganti menjadi Tempat Penitipan Anak bagi pejabat yang membuat kebijakan..? (dengan berbagai argumen yang mereka ajukan sih.., biar pulangnya bareng dengan kantor ortunya. Biar tidak banyak bermain di rumah, karena ortu belum pulang). Kemudian anaknya Bapak/Ibu Guru, siapa yang mendidik? Semuanya silahkan kembalikan ke Fitrahnya manusia saja... Toh Bapak/Ibu yang membuat kebijakan ini juga Hasil Produk Si Mbah kita, yang dahulu kalau nakal di jewer, di pukul jarinya kalau kukunya panjang. ;)
  • GUFRIAL, SE, Lampung, 4 Dec 2012
    Pemerintah dalam hal ini kemdikbud belum cukup menjelaskan dasar diambilnya kebijakan penggantian kurikulum, selain dari pada hanya sebatas alasan dan pertimbangan yang belum semua orang memahaminya. Belum pernah disampaikan kepada publik hasil evaluasi pelaksanaan kurikulum KTSP secara konprehensif. Penyempurnaan isi kurikulum mungkin sangat diperlukan untuk menghadapi persaingan yang semakin berat dimasa datang, pengurangan jumlah mapel mungkin perlu untuk mengurang tingkat stress yang dihadapi siswa dengan terlalu banyaknya mapel, penambahan jam pelajaran mungkin perlu untuk memperoleh hasil belajar yang maksimal. Tapi mengubah status mapel menjadi kelompok A sebagai kelompok utama dan kelompok B sebagai Muatan Lokal, pentingkah? Ini kan tetap ada dikotomi dalam kurikulum. Padahal kurikulum KTSP menyamakan kedudukan semua mapel. Menghapus mapel TIK dan digantikan dengan mapel prakarya apakah cukup dengan alasan bahwa TIK menjadi media pembelajaran bagi semua mapel sehingga TIK tidap perlu diajarkan kepada siswa. Apakah selama ini IT belum menjadi media pembelajaran sehingga harus dipelajari siswa sedangkan kedepan akan menjadi media pembelajaran mapel lainnya sehingga tidak perlu dijadikan mapel tersendiri.Apakah ketika TIK sudah menjadi media pembelajaran maka peserta didik dengan sendirinya akan menguasai TIK. Dengan kata lain penguasaan TIK bagi siswa menjadi tanggungjawab siswa? Apakah demikian pentingnya prakarya bagi siswa sehingga harus dengan menggusur TIK. Cukup urgenkah prakarya dalam menjawab tantangan dan persaingan hidup dimasa datang dibandingkan dengan TIK. Apakah tidak ada peluang dalam struktur kurikulum 2013 yang memberi kesempatan kepada sekolah dan daerah untuk ikut memberi warna pada mozaik yang bernama Indonesia? Sebenarnya dimana kegagalan kurikulum KTSP sehingga diperlukan perubahan? Apakah tidak cukup hanya dengan penyempurnaan? Mari tanyakan pada rumput yang bergoyang...
  • Sutikno, Jawa timur, 4 Dec 2012
    Kurikulum boleh berganti, tapi imlementasi di lapangan itu yg lebih penting. Paling-paling sebentar lagi nasibnya tidak jauh berbeda dari KTSP, akan dicari kekurangan, kelemahan dan kesalahannya dan dijadikan alasan untuk menggantinya dg kurikulum baru. Ada 3 isu nasional bahkan global yg mempengaruhi merosotnya dunia pendidikan kita yaitu 1. Spiritual termasuk di dalamnya etika dan moral 2. Nasionalisme dan 3. Peduli lingkungan. Dimana ketiganya mengalami degradasi yg sangat parah. Hampir setiap hari pemberitaan di TV memberitakan peristiwa yg berkaitan dengan ketiganya. Dari segi akademis atau kemampuan kognitif sebenarnya anak-anak kita sekarang “mungkin” lebih pandai dg prestasinya yg mendunia. Sehingga menurut hemat saya yg tepat kurikulum itu perlu disempurnakan bukan diganti secara frontal. Sebenarnya KTSP-pun sudah baik, dg berbagai kata kunci yg ada di dalamnya antara lain: pendidikan karakter, berpusat pada siswa, berbasis kompetensi, pembelajaran kontekstual dengan CTL dan PAKEM, penilaian portofolio dan penilaian acuan criteria itu semua sudah ada pada KTSP. Lalu kurang apa? Di daerah-daerah banyak yang baru belajar dan mengerti/memahami apa dan bagaimana KTSP itu serta berusaha melaksanakannya dengan segala pernik-perniknya sampai ke analisis konteksnya. Eh… ternyata sudah akan ganti lagi, pusinglah kepala ini. Workshop lagi …workshop lagi…jadilah kurikulum kita yg tidak konsisten dan tidak membuahkan hasil apa-apa. Sampai kapan? Jadi yg sangat penting untuk kedepan bukan workshop tentang sosialisasi dan masalah teknis pelaksanaan kurikulum baru, namun lebih ditekankan pada workshop pembenahan mental terkait dengan 3 hal tadi yaitu Spiritual termasuk di dalamnya etika dan moral, Nasionalisme dan Peduli lingkungan. Selama kita masih berpikir jabatan, kedudukan dan harta demi kemakmuran diri sendiri jangan mimpi dunia pendidikan kita berhasil dan Indonesia akan maju. Dibutuhkan orang-orang yang masih peduli dg jiwa pengabdiannya yg tinggi. Insya’allah dengan ijin-Nya, mereka akan bisa menguraikan benang kusut permasalahan dunia pendidikan kita. Penggantian kurikulum yg tidak tepat sasaran akan menimbulkan dampak sangat besar. Mulai dari perubahan berbagai permen yang terkait dengan perubahan kurikulum itu sendiri. Dan itu membutuhkan dana yg tidak sedikit dan waktu yg lama. Sehingga dalam penantiannya, di tataran pelaksana ini akan menimbulkan kebingungan, keresahan dan ketidakpastian berkaitan dengan nasib guru. Hal ini sangat sensitif dan para pengambil kebijakan harus peka dan bijaksana dalam menyikapinya. Semoga.
  • Eko Sujadi, Kepulauan riau, 4 Dec 2012
    Yth. Tim Perumus Draft Kurikulum 2013. Setelah saya membaca keseluruhan draft tersebut, saya tidak melihat secara jelas posisi Bimbingan dan Konseling, sebagai bahan perbandingan coba lihat KTSP di mana Bimbingan dan Konseling menempati posisi urgen dalam proses pendidikan di sekolah. Saya berharap dalam kurikulum 2013, posisi Bimbingan dan Konseling dicantumkan secara jelas.
  • IMI KHUZAIMI, Jawa barat, 4 Dec 2012
    Assalamu'alaikum. Saya guru TIK di SD dan sudah disertifikasi tahun 2011. Seperti yg saya lihat di bahan uji publik kurikulum 2013, saya tidak melihat ada mata pelajaran TIK. - Apakah pelajaran TIK akan dihapuskan? - Jika ya, bagaimana status sertifikasi saya juga guru TIK SD yang lainnya? Jika tidak (masih tetap ada), bagaimana menerapkan mata pelajaran TIK di SD. Terima kasih, wassalam
  • AGUNG PUJIHARJONO, Di. yogyakarta, 4 Dec 2012
    Bapak menteri yang terhormat, sebagai pendidik saya menyambut baik perubahan kurikulum baru ini agar ke depan pendidikan lebih baik, Mohon tanggapan dan kejelasan mengenai mapel kewirausahaan. trimakasih.
  • antonmaulanaibrahim, Jawa tengah, 4 Dec 2012
    Assalamu 'alaikum wr.wb..perubahan apapun yang ingin pa menteri lakukan, saya rasa justru mapel TIK yang perlu dikembangkan bukan malah dihapus
  • Agus Arif Rakhman, SE., Jawa timur, 4 Dec 2012
    pak Menteri yang terhormat, BAHASA INGGRIS dan TIK adalah MODAL BESAR untuk bisa bersaing di era globalisasi. JANGAN MALAH DIHAPUS dengan alasan dijadikan media pembelajaran. TIK harus disendirikan karena minat belajar siswa sangat tinggi dan harus mendapat dasar komputer jadi nantinya justru akan mendukung mapel yang lain. TIK justru harus dikembangkan jadi mata pelajaran wajib karena sudah jadi tuntutan pasar. TOLONG DIDENGARKAN SUARA RAKYAT KECIL INI
  • Fathur Rachim, Kalimantan timur, 4 Dec 2012
    1. Salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru adalah TIK itu betul dan mampu berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin setelah TIK direncanakan Integratif dg mapel lainnya, maka ada baiknya dipertimbangkan pula B. Indonesia juga Integratif dg mapel lainnya (dihilangkan) karena "BIN" paling mudah diintegratifkan, disisi lain mengurangi beban siswa UN. 2. Maksud saya diatas tidak serius, jadi begini ketika siswa tidak diajar TIK (cara searching, buat presentasi, belajar ngetik), trus ketika guru mapel lain memberi tugas (cari bahan di internet, buat makalah, buat presentasi) apa guru mapel lain harus ngajari anaknya dulu powerpoint, internet dst ? perlu diingat juga "Literacy Informasi" menjadi salah satu kompetensi global yang harus dikuasai siswa dan TIK lah "Obat"nya. Dan perlu diingat pula "revormasi pendidikan dan pengajaran Indonesia berkembang cepat ketika TIK masuk menjadi mata pelajaran" 3. Saya setuju di SMA penjurusan hilang (karna ada SMK), Ada mapel wajib dan pilihan (karena amanat UU adalah SKS), masalahnya sampai saat ini, janji UMPTN/SNMPTN akan diadakan 1 tahun 2 kali belum juga terlaksana (padahal sudah ada sekolah yg menyelenggarakan SKS) 4. Yang terpenting adalah peningkatan kualitas guru dari 4 sisi kompetensi khususnya untuk memperkaya model, strategi, pendekatan pembelajaran. 6. Kita kurang mengarah kepada "Creating" (taksonomi bloom revisi), dengan project-based, padahal dengan hal tersebut kognitif, afektif, psikomotor, penilaian proses dan kecakapan abad 21 untuk siswa bisa terpicu dan terpacu.
  • MUHAMMAD ADIB WIBOWO, Jawa tengah, 4 Dec 2012
    Ass.. wr wb. Mari benahi pendidikan di Indonesia. Saya pribadi sangat bahagia dengan adanya pembaharuan kurikulum yang telah ditampilkan di Bahan Uji Publik Kurikulum 2013. Dengan membandingkan kurikulum yang berlangsung saat ini dengan prospek yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Menurut saya kalo berbicara pendidikan itu sebenarnya tidak hanya masalah Sekolah atau Kurikulum saja. Tapi pembentukan karakter anak yang dimulai dari lingkungan keluarga itu yang lebih diutamakan. Sekolah hanya sebagai tongkat estafet untuk pendidikan seorang anak. Banyak siswa2 didaerah yang kurang sadar tentang pentingnya pendidikan. Siswa-siswa didaerah kurang niat dalam bersekolah. Oleh karena itu, Puskur selaku perancang kurikulum Kementerian Pendidikan selaku pemangku Pendidikan di Negeri ini harus bisa mengoptimalkan Pendidikan dari segala arah, misalnya dengan memaksimalkan peran Pendidikan Masyarakat. Banyak orang pintar di Negeri ini tapi sakit secara nurani. Kembalikan fitrah Pendidikan di Negeri ini, yang hanya bisa dimulai dari diri sendiri kita semua, termasuk SAYA... Terima Kasih.. Wassalam
  • Agus Arif Rakhman, SE., Jawa timur, 4 Dec 2012
    kalo TIK tidak disendirikan, maka kualitas SDM kita akan MUNDUR. siswa butuh TIK guna mendukung mapel yang lain
  • Drs. H. Eko ariadi, M.si, Dki jakarta, 4 Dec 2012
    Assalamu'alaikum Wr.Wb. Pak Menteri mohon maaf ....saya sedih dengan pend. karakter bangsa. Dari dulu para guru selalu mengajarkan kebaikan, akhlaq mulia dan sebagainya ...... Mengapa karakter bangsa jadi begini? Ada dua saran yang ingin saya sampaikan : 1. Pencegahan Supaya lebih efektif pelajaran PPKn diganti ( diisi dengan pend. cinta tanah air dan budi pekerti/akhlaqul karimah). Tidak perlu pendidikan karakter bangsa, kewirausahaan, ekonomi kreatitif , pendidikan anti kurupsi dan entah apalagi nanti dipaksakan masuk ke silabus semua mata pelajaran karena tanpa itu guru sudah memberikan materi tersebut dengan kompetensi kepribadiannya. Sehingga tidak memperumit adm pendidikan yang pada akhirnya hanya untuk memenuhi syarat saja. 2. Tindakan Selama ini kita salah diagnosa. Apa yang slah ...apa yang dibenahi! Karakter bangsa yang rusak ( korupsi, narkoba, tawuran dll ) disebabkan oleh supremasi hukum yang rusak dan keteladanan yang sangat buruk dari para pemimpin kita melalui media yang setiap hari diayangakan, terutama masalah kurupsi. Pak Menteri selain Pendidikan yang selalu mengajarkan karakter/ akhlaqul karimah perlu diciptakan sistem yang kuat dalam hal ini supremasi hukum yang kuat dan tidak pangdang bulu, bukan hukum politis yang seperti kita alami sekarang. • Kalau perlu dalam suatu instansi isinya orang berkarakter buruk semua ( korup, malas dll) tretapi karena sistemnya sudah baik mereka tidak bisa berbuat buruk • Sebaliknya anak yang akhlaqnya sudah baik karena sistem yang buruk ( lingkungan, kesempatan dan peluang yang sangat kondusif karena hukum lemah ) dapat terjerumus atau terpaksa mengikuti lingkungannya . Apa itu guru atau pendidikan yang salah ? Pak mumpung lagi bebenah kurikulum mohon masalah pendidikan karakter bangsa dipikirkan secara khusus. Terima kasih..
  • wibowo ari subagio, Jawa tengah, 4 Dec 2012
    maaf saya bukan guru dan bukan pegawai dikalangan pendidikan, saya adalah warga masyarakat biasa yang menaruh minat di duia pendidikan. Sepakat perlunya pembaharuan kurikulum untuk mengejar ketertinggalan Indonesia dengan negara maju lainnya di dunia. Tetapi yang diperlukan dalam dunia pendidikan adalah masalah moral dan etika yang perlu di garais bawahi, selain itu juga life skill sehingga anak didik mampu memiliki ketrampilan menghadapi hidup yang dirasakan semakin hebat. Dengan perubahan kurikulum itu diharapkan peserta didik benar benar memperoleh pencerahan dalam kehidupan dan mampu mengatasi problem2 dalam kehidupan dengan penuh kreativitas sehingga mereka tidak lagi menggantungkan diri dan berharap menjadi pegawai negeri saja.
  • Mustadjab Abdillah, Jawa timur, 4 Dec 2012
    Yth Tim Perumus : Upaya menjadikan bangsa dan generasi lebih baik tentu menjadi komitmen kita insan pendidikan. Perubahan kurikulum salah satu saranan-nya. Usulan saya terhadap perubahan kurikulum sebagai berikut : 1. Untuk SMK agar tetap memberi kesempatan kepada siswa dapat melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi. 2. Penempatan yang jelas pada kedudukan Kegiatan Bimbingan dan Konseling. 3. Peningkatan kompetensi Guru BK dengan memberikan pendidikan dan pelatihan yang memadai. 3. Kegiatan praktek produktif dibagi lebih merata di berbagai tingkat tidak hanya terkonsentrasi di kelas XII (tingkat-3) 4. Perubahan kurikulum harus disertai upaya peningktan kompetensi guru dan penyediaan sarana-prasarana.
  • agusnita diodawati, Jawa timur, 4 Dec 2012
    Yth Bpk Menteri Pendidikan RI,Saya guru TIK SMP, di kurikulum SMP 2013 TIK tidak ada, apakah TIK ditiadakan? kalau ditiadakan lantas bagaimana nasib guru-guru TIK yang ada di seluruh Indonesia?
  • Priyatno, Dki jakarta, 4 Dec 2012
    Kurikulum kita sudah baik dan bagus dan disempurnakan lagi pada Kurikulum 2013, hanya saja belum semua komponen dan stake holder yang ada berkontribusi dan berkomitmen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kuncinya ada pada semua pimpinan dan Kepala Sekolah. Marilah masing-masing dari diri kita berusaha untuk membangun pribadi yang bisa menjadi panutan/teladan bagi generasi berikutnya. Membangun harus dimulai dari bawah (rakyat) membersihkan harus dimulai dari atas (pemerintah/pimpinan). Saya hanya mengajak kepada semua komponen mari kita berbuat semampu kita dengan ikhlas, karena Guru sudah mendapat Julukan " Pahlawan Tanpa Tanda Jasa " Mari kita buktikan. Guru berkata : - kuwariskan ilmu kasampurnan ini kepadamu, bukan untuk membuatmu sempurna, tetapi untuk membuka kesempurnaan yang ada pada-Mu.
  • Irhady Kusuma Wardhana, S.Pd.T., Nusa tenggara barat, 4 Dec 2012
    Yth. Tim Penyusun Kurikulum Nasional. Upaya perbaikan kualitas pendidikan di negeri kita tercinta ini selalu diusahakan. Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah akhlak mulia. Kenyataan di lapangan, ternyata akhlak siswa-siswa kita sangat memprihatinkan. Oleh karena itu, kami berharap untuk mata pelajaran agama di berikan jam tambahan, yang tadinya kami di SMK itu 2 jam pelajaran bisa menjadi 4 jam pelajaran. Dengan alasan ternyata selain akhlak yang memprihatinkan, siswa-siswa kita sekarang ini (khususnya yang muslim) banyak yang tidak bisa membaca Al-Qur'an dengan baik demikian pula banyak yang tidak mengetahui tata cara sholat yang sesuai dengan sunnah. Sehingga dengan tambahan 2 jam pelajaran dapat dipergunakan oleh Guru untuk melakukan praktik Membaca Al-Qur'an dan praktik Sholat. Dengan demikian, secara tidak langsung akhlak siswa pun dapat dibenahi.
  • Sridasweni, SPd, Riau, 4 Dec 2012
    Yth. Tim Pengurus, dalam usulan kurukulum 2013, posisi BK (Bimbingan dan Konseling) tidak jelas, Mohon diperjelas Posisi BK (Bimbingan dan Konseling) dalam kurikulum 2013, karena pada hakekatnya, BK dalam dunia pendidikan sangat penting. Apakah BK akan di Integrasikan ke semua mata pelajaran atau ditiadakan ?? jika memang begitu, bagaimana nasib kami sebagai guru BK ataupun Konselor sekolah ??
  • nurul hidayah, Jawa timur, 4 Dec 2012
    Ass. Yth. Bapak Menteri dan Tim perumus. Saya adalah guru TIK di SMA yang sudah disertifikasi. Saya sudah melihat dari draf kurikulum 2013 bahwa TIK di tingkat SMP akan ditiadakan, maka hal-hal yang perlu kami sampaikan: 1. Apakah ini juga berlaku di tingkat SMA? dan bagaimana nasib guru-guru yang sudah sertifikasi sedangkan mata pelajarannya ditiadakan? karena kami juga sudah akan mengikuti program linierisasi agar menjadi guru profesional TIK. 2. Tentang diintegrasikannya TIK ke dalam pelajaran lain memang penting untuk membuat para gurunya melek teknologi, tapi apakah sudah dipahami oleh Bapak, bahwa kemampuan para guru di lapangan sudah mumpuni semua..?apalagi kalau di sekolah saya itu guru-gurunya masih selalu dibimbing guru TIK. dan pastinya para guru mapel tidak akan mampu menjelaskan semua program aplikasi yang dibutuhkan oleh siswa. Dan tentunya hal ini yang akan menyebabkan anak2 bangsa "gaptek" alias "gagap teknologi" karena ketinggalan perkembangan teknologi. 3. Seharusnya mapel TIK bukannya dihapus, tapi seharusnya Kurikulum mapel TIK lebih dikembangkan dan ditingkatkan lagi karena kurikulum yang ada masih belum berorientasi pada penjurusan di perguruan tinggi seperti pada jurusan Teknik Informatika, Teknik Komputer dll. Karena itu mapel TIK sangat perlu keberadaannya di tingkat menengah khususnya dalam membentuk pola pikir yang sistematis dan logis seperti perlu adanya materi algoritma, materi2 dasar bahasa pemrograman. Untuk itu lebih baik materi TIK tetap ada dan bahkan perlu ditambah jam pelajarannya dari 2 jam pelajaran. 4. Kepada Bapak Menteri dan Tim, Jika akan membuat kurikulum baru diharapkan juga memperhatikan kebijakan-kebijakan yang lain seperti kebijakan bagi guru (misalnya adanya guru sertifikasi yang dituntut 24 jam mengajar), Mohon kebijaksanaan Bapak demi kebaikan semua agar kurikulum yang baru ini tidak diterima dengan harus mengorbankan para guru yang telah lama mengabdi untuk bangsa ini. Terima kasih atas kebijaksanaanya. Wass..
  • sodikin, Jawa barat, 4 Dec 2012
    SALAH KAPRAH KALAU TIK DITIADAKAN DI SMP....ANAK DIAJAK KONSUMTIF PRODUK TIK GURU TANPA BISA BELAJAR MENGHASILKAN PRODUK TIK SENDIRI...PADAHAL GURUNYA MASIH GAPTEK
  • Romi Zulkifli, Jawa barat, 4 Dec 2012
    Assalamu Alaikum Warahmatullahi wabarakatuh... Yth. Bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI. Ada beberapa hal yang sy ingin sarankan terhadap dan terkait perubahan Kurikulum 2013, yakni : 1. Muatan Mapel dr tingkat SD sampai SMA sangat gemuk alias banyak, hal ini menyebabkan siswa didik merasa terbebani. olehnya itu, sy menyarankan agar ada pengurangan mapel dari SD sampai SMA tetapi sebaiknya siswa di tanya terkait bakat dan minat sejak mereka masih di tingkat SD, sehingga tugas guru dan orangtua bisa menfokuskan keinginan dan bakat anak didik untuk menguasai sebuah ilmu pengetahuan tertentu tanpa meninggalkan karakter bangsa timur indonesia. Saya juga mengungkapkan pendapat poin 1 ini sebenarnya masih dangkal disebabkan oleh fakta di zaman rasullllah yakni terdapat banyak shahabat penghafal Qur'an dimana orang tua mereka ummi (bodoh) tetapi faktanya para sahabat tersebut bisa menghafalkan 6.666 ayat isi Al-Qur'an sedang kapasitas otak dan manusia sama seperti manusia atau anak didik bahkan mereka sdh menanjak usia 50 tahun. artinya pendidikan yang ditanamkan kepada siswa didik tersebut harus lebih fokus tidak sekedar mengejar ketuntasan minimal atau maksimal dari hasil belajar yang ditunjukan dengan nilai yang terkadang itu sifatnya manipulatif/subyektif tergantung dari tenaga pendidik (guru) mata pelajaran yang bersangkutan. 2. Kaitan dengan poin 1 di atas disamping istilah saya "FOKUS" juga yang terpenting adalah adanya relevansi antara muatan pendidikan atau pelajaran dengan agama yang idak boleh dikotomis. artinya muatan pelajaran yang diajarkan di semua tingkat pendidikan harus mampu diaplikasikan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari, ada reward dr semua yang dipelajari oleh siswa sejak niat berangkat ke sekolah sampai pulang kerumah secara vertikal dengan sang pencipta Allah SWT.begitupun dengan guru yang bersangkutan ketika beliau dalam posisi sebagai tenaga pendidik idealnya harus mengerahkan segala kemampuan yang dimiliki agar hasil dr proses transfer ilmu dapat bermanfaat bagi siswa didik. 3. terkait dengan sarana dan prasarana pendidikan di Indonesia, sy adalah warga Bogor dan menurut data statistik "kabupaten Bogor dalam angka tahun 2012" sekolah tingkat sma/ma/smk berjumlah 468 buah dan dari jumlah tersebut hanya 48 yang berstatus negeri dan sisanya sekolah swasta di 40 Kecamatan di Kabupaten Bogor. Secara kasat mata pihak kedua ini terkadang tidak fokus untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tetapi hanya bersifat "komersial" semata.saran sy, Pembukaan UUD 1945 sdh menyatakan salah satu tujuan eksistensi Republik yang kita cintai ini adalah Mencerdaskan Kehidupan Bangsa dan tugas ini ada di pundak pemerintah sebagai institusi penyelengara pendidikan di negeri ini yang harus menyediakan sarana dan prasarana pendidikan di seluruh negeri ini, karena hakekatnya pemerintahlah yang memiliki duit untuk menyediakan dan mengelola pendidikan dinegeri ini.bukan pihak swasta yang duit sarana dan prasarananya ujung-ujungnya dari pemerintah itu sendiri. 3. Tahun 70-90an sebelum ada istilah sertifikasi guru, diera itu militansi guru dalam mendidik siswa luar biasa, sekali lagi "LUAR BIASA". dulu masih ada istilah guru pahlawan tanpa tanda jasa dan tanpa pamrih. tapi saat ini betapa banyak ketimpangan yang terjadi, banyak guru yang mengajar ala kadarnya.
  • Agus Arif Rakhman, SE., Jawa timur, 4 Dec 2012
    seharusnya TIK dikembangkan jadi mapel WAJIB seperti di sekolah2 international jadi siswa punya minat mengembangkan ilmu mapel lain berbasis teknologi
  • wawan sarudi, Jawa timur, 4 Dec 2012
    seharusnya dalam uji publik ini juga dibahasa bagaimana peran guru Muatan lokal (misal bahasa jawa), guru TIK, dan guru BK apabila kurikulum ini diterapkan karena kami tidak menemukan bagaimana posisi guru-guru tersebut apabila kurikulum ini diterapkan, sedangkan dilapangan jutaan guru dari ketiga mapel tersebut ada sebagian yang resah karena ketidakjelasan posisi mereka apabila kurikulum ini diterapkan. saya mengharapkan bapak menteri dan tim perumus kurikulum juga mengatur hal ini. terimakasih. majulah pendidikan indonesia
  • Bintarso, Di. yogyakarta, 4 Dec 2012
    Yth. Bapak Menteri Pendidikan dan Tim Penyusun Kurikulum 2013 Setelah saya membaca struktur kurikulm 2012 terutama SMK, disana ada bebera mapel yang ditiadakan antara lain; Kewirausahaan,IPS, IPA, KKPI, saya sendiri selaku pengajar mata pelajaran IPA, Saya mohon kepada bapak menteri beserta Tim penyusun kurikulum 2013, mapel boleh ditiadakan tetapi dicarikan alternatif lain mapel yang serumpun, jika tidak misal kita pakai perhitungan matematika sederhana, jika dalam 1 SMK misal ada 1 mapel yang ditiadakan, berarti 1 guru tidak mempunyai tugas mengajar/menganggur, mau mengajar pelajaran lain jelas tidak bisa karena tidak sesuai kompetensinya, itu baru 1 SMK dan 1 mapel yang ditiadakan, bayangkan jika seluruh SMK se Indonesia, misal 100.000 SMK, berarti ada kurang lebih 100.000 guru yang tidak mempunyai tugas mengajar, jika 4 mata pelajaran tinggal dikalikan 100.000, berarti kurang lebih 400.000 guru yang tidak mempunyai tugas mengajar, apa ini tidak menimbulkan masalah? Saran saya walaupun mapel ditiadakan tolong dicarikan gantinya, misal untuk pelajaran IPA bisa diganti dengan PLH ( Pendidikan Lingkungan Hidup ), karena menurut analisa saya, PLH sangat penting diajarkan di SMK karena kita ketahui secara bersama bahwa akhir-akhir ini masalah lingkungan hidup semakin mencuat, misal banjir dimana-mana,kemarau yang panjang, polusi dimana-mana,dll. Untuk itu saya mohon saran ini dipertimbangkan kalau bisa direalisasikan, atas terealisasikan saran ini kami ucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya.
  • Jamalludin, S. Ag.,M.A., Bali, 4 Dec 2012
    1. B.INGGRIS WAJIB DIAJARKAN DI SD KLS 4,5,6 SEBAGAI DASAR UNUTK TINGKAT SELANJUTNYA 2. MAPEL AGAMA ALOKASI WAKTU MINIMAL 3-4 JAM PEL./MINGGU DARI SD-SMA/SMAK MA KS WASSALAM JAMAL BALI
  • arifin, Jawa timur, 4 Dec 2012
    Assalamualaikum wt wb sudah sekian lama saya mengajar sehingga banyak getir pahit yang saya alami terutama dalam mengajar mata pelajaran matematika , banyak hal yang dialami guru matematika teruma dalam masalah ketuntasan belajar hal tersebut juga banyak dialami oleh teman teman se profesi dan berbagai metode atau pendekatan hasilnya tetap tidak memuaskan ,untuk itu kami punya saran sebagai berikut agar materi standar kompetensi yang tertera dalam kurikulum ktsp dikurangi misalnya saja persamaan kuadrat dan pemfaktoraanya yang diberikan di kelas 8 mohon dipindahkan di kelas sembilan masalah jam pelajaran memang harus juga ditambah , disamping hal tersebut adalah masalah KKM kebanyakan maslah KKM banyak menipu baik dari segi siswa ataupun pihak guru dan sekolah misalnya saja seklah harus mematok kkm 75 sedang kemampuan siswa setiap hari hanya mencapai nilai berkisar 40 samapai 50 kemudian rapornya harus dituliskan 75 karena ada patokan dari sekolah hal tersebut terjadi manipulasi nialai sehingga pada saat ini banyak guru yang hanya serta merta tidak mau dirubutkan masalah langsung saja memberikan nilai yang telah ditetapkan sesuai dengan KKM tadi kalau hal ini terjadi secara ber kelanjutan kapan kita akan bertindak jujur dan adil makasih wassalam wr wb
  • Jamalludin, S. Ag.,M.A., Bali, 4 Dec 2012
    MAPEL AGAMA ALOKASI WAKTUNYA 3-4 JAM PEL/MINGGU SEBAB MAPEL. AGAMA CIKAL BAKAL PENINGKATAN AKHLAQ BANGSA
  • istiyadi, Jawa tengah, 4 Dec 2012
    Yth. Tim penyusun kurikulum. Dalam draf pengembangan ini sudah ada kemajuan, alhamdullah sudah lbh mengedapankan pengajaran kepada siswa yg hrs lbh aktif, kratif dan kritis. akan tetapi sangat tidak bijak apabila mapel TIK malah dihilangkan padahal dlm mapel ini justru siswalah yg lbh aktif dan ini sesuai dg perkembangan. Saya sangat setuju apabila TIK dijadikan sarana pembelajaran setiap mapel, akan tetapi sangat tidak setuju apabila mapel TIK dihilangkan. Kalau sampai dihilangkan berarti kedepan praktis generasi bangsa hanya sebatas pengguna (USER) saja tanpa ada orang yg berkompeten untuk menciptakan teknologi informasi yg inovatif. Kalau kita tengok di daerah-daerah masih banyak siswa yg blm bisa komputer (bahkan mengoperasikan sj blm pernah). Selain itu perkembangan TIK adalah yang paling pesat perkembangannya. Setiap tahun pasti muncul teknologi baru dan kalau generasi kita tdk dibekali sejak dini pasti akan sangat tertinggal. Maaf-maaf nich..gurunya saja masih banyak yg belum bisa komputer. Dan kalau kita lihat pasti guru yg mengajar TIK rata-rata guru yg mempunyai kompeten yg lebih dari guru lain.
  • Ema Salma Diba, S.Pd.,M.Pd., Bali, 4 Dec 2012
    MOHON KIRANYA MAPEL.BHS INGGRIS DIMASUKKAN DI KLS, 4.5.6, BUKAN SBG PEL. ESKUL MENGINGAT DASAR PEMBLJRN KE TINGKAT LEBIH TINGGI N KHUSUSNYA BALI SBG DAERAH TUJUAN WISATA DUNIA SANGAT DIPERLUKAN MAPEL.B.INGGRIS BUKAB SBG ESKUL TERIMA KASIH
  • yoto purnomo, Di. yogyakarta, 4 Dec 2012
    Fakta dalam pelaksanaan KTSP selama ini: Assalamu'alaikum. mohon maaf sebelumnya, menyikapi tentang kurikulum 2013, nantinya semoga sosialisasinya benar2 sesuai dengan yang diharapkan. jangan sampai terjadi seperti pada kurikulum KTSP kemarin. mungkin kalau sekarang guru2 ditanya, sebenarnya KTSP itu apa? seperti apa? pelaksanaannya bagaimana? pasti banyak yang masih menjawab tidak tau. alhasil pelaksanaanyapun tidak berbeda dengan kurikulum2 yang sebelumnya. bahkan kurikulum yang sudah dilaunching tahun 2006 tenyata tahun 2012 pun masih ada yang belum punya dokumen KTSP nya. jadi bagaimana harapan KTSP itu bisa dijalankan kalau yang menjalankan kurikulumnya (guru) tidak tau praktis pelaksanaannya dan dokumen kurikulumpun tidak punya. ini ibarat seseorang diberi mobil untuk pegi kesuatu tempat, tetapi orang tersebut tidak


    Komentar :

    No Komen : 4
    april :: 16-12-2012 10:52:18
    assalamualaikum. saya rasa kurikulum ini masih banyak kekurangan. seharusnya dikurikulum 2013 bukannya meniadakan mapel yang sudah ada. karena dikurikulum ini bisa-bisa menciptakan banyak guru yang jadi pengangguran, apalagi guru swasta. apakah sudah dipikirkan matang2 dikurikulum ini? pasti akan banyak menimbulkan konfik dimana2!!
     
    No Komen : 3
    Marisi :: 11-12-2012 14:01:35
    Aneh, skg jaman globalisasi n era teknologi informasi, eh malah pelajarn TIK dhapus.. Jgn korbnkn ank bngsa yg mw melek teknologi informasi sjak dini, hnya krn kurikulum 2013 ini.
     
    No Komen : 2
    hamrah :: 09-12-2012 12:52:42
    mohon agar kiranya posisi BK pada kurikulm 2013 diperjelas, bukan diintegrasikan dengan pelajaran lain. karena BK mempunyai kekhususan.
     
    No Komen : 1
    Prima Meilia S.Pd :: 08-12-2012 08:04:15
    Bapak Menteri Yang Terhormat, saya adalah lulusan dari pendidikan Bahasa daerah (Jawa Timur), saya melihat dikurikulum yang baru, Bahasa Daerah sepertinya ditiadakan. padahal dalam ranah orang Jawa, pendidikan bahasa daerah itu adalah pendidian dasar yang sangat diperlukan. selain untuk mengetahui budaya daerah, namun juga terdapat pembelajaran tata krama n karakteristik diri. kalau itu dihapus, bagaimana dengan dasar moral orang Jawa Kelak?? kenapa hal seperti itu tidak diperhatikan.
     
    Nama :
    E-mail :
    Web :
    Komentar :
    Masukkan kode pada gambar


        [Emoticon]

Pengumuman PPMB

Artikel Popular

  • Silabus dan RPP Bimbingan Konseling berkarakter
    27-01-2012 18:06:47  (771)
  • Buku Pribadi Siswa untuk BK
    21-02-2012 23:13:55  (310)
  • Pembuatan Alat Peraga Bimbingan Konseling
    14-03-2012 09:09:01  (214)
  • Tes Karakter Orang
    18-02-2012 04:20:47  (205)
  • Saatnya Mengukur Sendiri Tingkat IQ Anda
    12-02-2012 12:43:11  (203)

Pengunjung

    1238685

PENCARIAN ARTIKEL


SILAKAN KETIK KATA KUNCI DIBAWAH INI

SELAMAT DATANG

Website ini dipersiapkan sebagai wadah saling berbagi keilmuan dan media pembelajaran dari berbagai sudut pandang Psikologi, Manajemen Sekolah, Perkembangan Dunia Pendidikan, Agama, Sosial, Budaya, dan Politik di Indonesia. Untuk Pengembangan website lebih lanjut sangat diharapkan masukan, kritikan dan saran yang sifatnya membangun dari pengunjung tercinta. Semoga artikel yang ada di dalam website dapat bermanfaat untuk kita semua, amin.

Motto Hidup

Torehkan Prasasti Hidup Dalam Wujud Keilmuan

Blog Guru Indonesia

Bookmark and Share

HUBUNGI PENULIS

Bagi pengunjung yang mencari informasi lebih jauh terkait artikel di website ini silakan hubungi kami di 081913042100 atau email ndorodemang@kemenag.go.id Trima Kasih.

Hadir di Facebook